Harga BBM di Amerika Turun Tajam Dan Akhirnya Dolar AS Meroket

Wikimedan.com – Harga BBM di Amerika Turun Tajam Dan Akhirnya Dolar AS Meroket. Harga energi yang tinggi menjadi salah satu pemicu ‘tsunami’ inflasi yang melanda Amerika Serikat (AS). Kini harga bahan bakar minyak (BBM) sudah turun tajam, tetapi inflasinya masih tetap tinggi.

Alhasil, bank sentral AS (The Fed) diperkirakan masih akan sangat agresif menaikkan suku bunga. Dolar AS yang sebelumnya ambrol dalam 4 hari beruntun langsung melesat.

Melansir data Refinitiv, pada perdagangan Selasa (13/9/2022) indeks dolar AS melesat 1,37% ke 109,81. Kenaikan tersebut nyaris membalikkan kemerosotan dalam 4 hari beruntun, dan membuat indeks dolar AS kembali mendekati level tertinggi dalam lebih 20 tahun terakhir.

 

Departemen Tenaga Kerja AS kemarin melaporkan inflasi berdasarkan consumer price index (CPI) Agustus sebesar 8,3% year-on-year (yoy). Dengan demikian, inflasi di Amerika Serikat sudah menurun dalam 2 bulan beruntun.

Namun, rilis inflasi tersebut masih lebih tinggi dari ekspektasi pasar sebesar 8%. Harga energi dilaporkan turun 5% month-to-month (MtM), berkat harga BBM yang merosot hingga 10,6% (MtM). Meski demikian, jika dilihat dari Agustus 2021, indeks harga energi masih melesat 23,8%, akibat kenaikan harga listrik dan gas alam.

Harga BBM sendiri sudah mengalami penurunan selama 91 hari beruntun. Harga termahal tercatat pada Juni lalu US$ 5,02/galon, sementara saat ini harganya sudah US$ 3,7/galon.

 

 

Penurunan indeks energi secara bulanan tidak dibarengi dengan sektor pangan yang masih melesat melesat 6,2%. Sektor pangan sendiri berkontribusi sekitar sepertiga dari inflasi.

“Data CPI menjadi pengingat kita jika jalan masih panjang untuk menurunkan inflasi. Harapan inflasi mulai pada jalur penurunan dan The Fed akan mengendurkan kenaikan suku bunga terlalu prematur,” kata Mike Loewengart, kepala model portofolio di untuk Global Investment Office Morgan Stanley, sebagaimana dilansir CNBC International, Selasa (13/9/2022).

Dengan inflasi yang masih tinggi, The Fed hampir pasti akan kembali menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin, bahkan tidak menutup kemungkinan sebesar 100 basis poin. Hal ini terlihat dari perangkat FedWatch milik CME Group, di mana pasar melihat probabilitas sebesar 67% The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin, dan probabilitas sebesar 33% untuk kenaikan 100 basis poin.

 

Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga Acuan The FedFoto: FEDWatch
Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga Acuan The Fed

 

Artinya pasar melihat bank sentral pimpinan Jerome Powell ini tidak akan menaikkan lebih rendah, yakni 50 basis poin.

Seperti diketahui, The Fed sudah 4 kali menaikkan suku bunga dengan total 225 basis poin menjadi 2,25% – 2,5%.

Jika kembali dinaikkan sebesar 75 basis poin, maka akan menjadi 3% – 3,25%. Selain itu, pasar kini melihat di akhir tahun nanti suku bunga The Fed akan berada di 4% – 4,25%.

Share :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *