Persaudaraan Setia Hati Tunas Muda Winongo, Pencak Silat Asal Indonesia yang Melegenda

Daftar Indodax

Persaudaraan Setia Hati Tunas Muda Winongo, Pencak Silat Asal Indonesia yang Melegenda. Salah satu warisan budaya dari leluhur bangsa Indonesia yang masih terjaga dengan baik hingga saat ini adalah seni bela diri pencak silat. Keberadaan pencak silat bisa dibilang sudah cukup lama di tanah air. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan bangsa Indonesia.

Saat ini telah berdiri banyak sekali perguruan pencak silat di Indonesia. Tidak hanya dikenal di dalam negeri saja, bahkan beberapa perguruan pencak silat juga disegani di luar negeri. Salah satu perguruan pencak silat yang cukup populer di Indonesia adalah Persaudaraan Setia Hati Tunas Muda Winongo (PSHW). Berikut adalah ulasan lebih jauh tentang pencak silat satu ini.

Sejarah berdirinya pencak silat Setia Hati

Adalah Ki Ngabehi Surodiwirjo, atau biasa disapa Eyang Suro, sebagai pencipta pencak silat Setia Hati. Ia lahir pada 1869 dan telah berkeliling Indonesia dalam bertugas sebagai juru tulis. Selama berkeliling itulah, ia mempelajari banyak sekali ilmu bela diri dan ilmu kebatinan dari beberapa guru yang pernah ditemuinya.

Ajaran luhur Persaudaraan Setia Hati Tunas Muda Winongo [sumber gambar]Pada 10 Muharram 1903, Eyang Suro mendirikan Perguruan bernama Sedulur Tunggal Kecer dengan nama pencaknya Djojo Gendilo Tjipto Muljo. Lalu pada tahun 1914, Eyang Suro bekerja di bengkel kereta api di Madiun. Di sana ia menikah dengan orang Madiun dan tinggal di Winongo. Pada 1917, ia mengubah nama Sedulur Tunggal Kecer menjadi Persaudaraan Setia Hati.

Dua aliran berbeda dari guru yang sama

Seiring berjalannya waktu, salah satu murid Eyang Suro, Ki Hardjar Hardjo Oetomo mendirikan perguruan baru yang diberi nama Persaudaraan Setia Hati Terate. Meski berbeda, kedua Padepokan tersebut menginduk pada guru yang sama, yakni Eyang Suro.

Dua Tugu Padepokan Persaudaraan Setia Hati di Madiun [sumber gambar]

Persaudaraan Setia Hati Terate didirikan pada tahun 1992 di luar desa Winongo. Jurus silat yang mereka ajarkan tetap bermuara pada ajaran Eyang Suro. Sementara Persaudaraan Setia Hati Tunas Muda Winongo tetap mengamalkan ajaran Eyang Suro dan sudah berdiri sekitar tahun 1960-an sebagai kelompok mandiri.

Keunggulan ajaran PSHW

Setiap padepokan pencak silat memiliki jurus-jurus andalannya. Begitu juga dengan Persaudaraan Setia Hati yang memiliki setidaknya 43 jurus, 13 pukulan dobel, 13 tendangan dobel, dan 19 pasangan lengkap. Setiap kenaikan tingkat, masing-masing anggota harus lulus ujian, mulai dari hafalan jurus dan sambung atau tanding dengan seperguruan.

Ajaran luhur yang mendunia [sumber gambar]Tidak hanya mengandalkan gerakan bela diri saja, PSHW juga mengajarkan ilmu mengolah raga sekaligus batin, guna mencapai keluhuran budi. Selain itu juga agar bisa mendapatkan kesempurnaan hidup, bahagia, dan sejahtera lahir batin di dunia dan akhirat. Demikian ungkap R. Agus Wijono Santosa, Ketua Umum Persaudaraan Setia Hati Tunas Muda Winongo.

Prestasi yang diraih PSHW

PSHW telah banyak menorehkan prestasi yang cukup gemilang. Mulai dari pertandingan silat dalam ajang KONI Cup Natuna pada tahun 2011 lalu. Melalui ajang HIMSI, PSHW keluar sebagai juara kedua dan juara ketiga pada perguruan silat kombinasi Siliwangi.

Aksi anggota Padepokan Pencak Silat Setia Hati Tunas Muda Winongo [sumber gambar]Selain prestasi di dalam negeri, PSHW juga cukup gemilang di ajang POMASEAN XVII yang diselenggarakan di Malaysia. Hingga masih banyak prestasi lainnya yang telah dimiliki oleh Persaudaraan Setia Hati Tunas Muda Winongoi.

PSHW yang terus berkembang

Persaudaraan Setia Hati Tunas Muda Winongo terus mengalami perkembangan. Perguruan yang berlokasi di Jalan Doho 123, Kelurahan Winongo Kota Madiun ini, telah memiliki keanggotaan hingga ke mancanegara, seperti Belanda dan Perancis.

Logo Persaudaraan Setia Hati Tunas Muda Winongo [sumber gambar]Hingga kini, ajaran PSHW telah berubah menjadi sebuah organisasi olah fisik sekaligus kerohanian yang cukup berpengaruh di kota Madiun. Bahkan jumlah anggotanya hingga mencapai 1,7 juta jiwa dan terus saja bertambah. Setiap tahunnya rutin menggelar Suran Agung dan Halal Bihalal.

Selain Padepokan Persaudaraan Setia Hati Tunas Muda Winongo, masih banyak lagi perguruan pencak silat yang  tersebar di Indonesia. Meski teknologi modern berkembang cukup pesat, akan tetapi mereka tidak melupakan ajaran dasar dari para leluhur, yakni dekat dengan Tuhan. Meski begitu, beberapa ajaran modern lainnya tetap diselaraskan dengan keadaan saat ini, sehingga tidak dianggap ketinggalan zaman.

Share :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *