Mengenal Bukit Algoritma, Proyek Mirip Silicon Valley di Indonesia, Nilainya 18 Triliun

Daftar Indodax

Mengenal Bukit Algoritma, Proyek Mirip Silicon Valley di Indonesia, Nilainya 18 Triliun – Sebentar lagi, Indonesia disebut-sebut akan memiliki pusat riset teknologi namanya Bukit Algoritma berlokasi di Sukabumi. Karena digadang akan mengiblat pada Silicon Valley, konon ada juga yang menyebut rencana Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) ini sebagai Silicon Valley Sukabumi. Kontrak pekerjaan pengembangan rencana sudah ditandatangani di Jakarta beberapa waktu lalu.

Budiman Sudjatmiko selaku Ketua Pelaksana Kiniku Bintang Raya KSO, mengatakan bahwa Indonesia di masa mendatang bisa punya kawasan seperti ini dengan jumlah yang banyak. Sebagai langkah awal, ‘Silicon Valley’ Sukabumi inilah mulanya. Jika kamu penasaran apa sih proyek Bukit Algoritma ini, simak rangkuman Wikimedan dari beberapa sumber.

Tahap pertamanya bakal menghabiskan 18 Triliun atau 1 Miliar euro

Yang membuat proyek Bukit Algoritma ini begitu menarik perhatian adalah dana yang dikucurkan dalam realisasinya. Disebut-sebut untuk tahap pertamanya yang memakan waktu selama 3 tahun saja, proyek dengan luas 888 hektar ini akan menghabiskan dana sekitar 18 Triliun rupiah atau 1 Miliar Euro. Katanya sih proyek ini bakal memakan waktu sekitar 11 tahun. Bakal jadi seperti apa ya?

“Untuk tahap pertama selama tiga tahun AMKA menjadi mitra kepercayaan untuk membangun infrastruktur, termasuk akses jalan raya, fasilitas air bersih, pembangkit listrik, gedung konvensi dan fasilitas lainnya.” ujar Budi Sudjatmiko, dikutip dari Realita Rakyat. Harapannya sih, Bukit Algoritma ini bisa menjadi pusat R&D (Research and Development) serta pengembangan SDM yang bisa saja meliputi kecerdasan buatan, robotik, drone bahkan panel surya. Ya, semoga saja terjadi seperti yang diharapkan ya.

Alasan dipilihnya Sukabumi sebagai lokasi Bukit Algoritma

Sebelum Bukit Algoritma di Sukabumi ini mendadak viral, sebenarnya tiruan Silicon Valley juga disebut-sebut akan dibuat di beberapa kota di Indonesia. Adapun kota Malang, Yogyakarta, BSD Serpong hingga Meikarta yang digadang kuat menjadi kandidat. Meski begitu, tak ada kelanjutan hingga Bukit Algoritma ini ditandatangani kontraknya.

Dipilihnya Sukabumi juga tak sembarangan, ada beberapa alasan yang membelakanginya. Di antaranya adalah adanya infrastruktur pendukung seperti akses Tol Bocimi, Pelabuhan Laut pengumpan Regional Wisata dan Perdagangan Pelabuhan Ratu, Double track KA Sukabumi dan Bandara Sukabumi Cikembar yang konon akan diwujudkan.

Tentang Silicon Valley, rujukan utama Bukit Algoritma

Saat kabar bahwa Indonesia akan membangun tiruan Silicon Valley, tentu banyak yang ingin tahu sebenarnya apa sih itu? Sederhananya, Silicon Valley menjadi sebutan bagi sebuah kawasan berisi perusahaan-perusahaan teknologi terbesar di dunia. Apple, Google, Facebook, Netflix, Intel hingga Oracle disebut-sebut memulai bisnis dan memiliki markas disana.

Sebenarnya Silicon Valley yang berada di daerah di selatan San Francisco Bay Area, California, AS dulunya malah tak ada sangkut pautnya dengan teknologi. Sebelum tahun 50-an, kawasan ini merupakan lahan kebun buah-buahan yang punya pemandangan indah ketika panen. Baru pada tahun 70-an julukan ini mulai populer seiring berkembangnya industri semikonduktor berkembang di sana.

Alasan mengapa Silicon Valley sukses besar, Indonesia yakin bisa tiru?

Banyak alasan mengapa Silicon Valley begitu sukses hingga sekarang di antaranya karena kolaborasi antar perusahaan yang membangun jaringan profesional terbangun dengan baik. Selain itu, California juga melarang klausul non-kompetisi, di mana pekerja yang berhenti dari sebuah perusahaan bisa bergabung dengan perusahaan lain dengan bidang sejenis. Atau membuat perusahaan mereka sendiri di bidang yang sama namun dengan ide yang lebih inovatif.

Selain itu, banyaknya universitas berpamor bagus seperti Universitas Stanford, Universitas California juga tak kalah jadi faktor mengapa Silicon Valley sukses. Universitas-universitas ini memiliki peran menyumbang lulusan dengan keahlian yang mumpuni dan terlatih. Yang tak kalah penting juga, adanya imigran dari India dan China di kawasan ini juga turut menjadikan Silicon Valley menjadi wadah bagi insinyur inovatif dengan beragam latar belakang budaya. Hmm kalau di Indonesia, apa ya yang akan jadi faktor sukses Bukit Algoritma?

Viralnya Bukit Algoritma bahkan sebelum kawasan ini dibangun memang tak terelakkan. Banyak kekurangan Indonesia terkait teknologi dan sebab-sebab lainnya yang membuat netizen, terutama, sangsi akan proyek ini. Membandingkan sesuatu yang belum ada yakni Bukit Algoritma ini dengan Silicon Valley ini rasanya juga kurang tepat. Mungkin sebaiknya kita tunggu saja 11 tahun, oh atau minimal 3 tahun lagi deh.

Share :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *