Kisah Pilu Arsilan, Mantan Tukang Kebun Sukarno yang kini Bertahan Hidup Sebagai Pemulung

Daftar Indodax

Wikimedan.com – Sekilas tidak ada yang menyangka jika sosok renta yang sehari-harinya mencari barang bekas di jalanan itu, merupakan salah satu sosok penting di balik Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 silam. Arsilan, nama pria tua itu ternyata merupakan mantan tukang kebun keluarga Presiden Sukarno.

Jasa-jasanya di masa lalu seolah berbanding terbalik dengan nasib Arsilan yang kini menjadi seorang pemulung. Hidupnya terhitung jauh dari kata layak meski dirinya dahulu sempat menjadi bagian dari keluarga Bung Karno. Seperti apa kisah dan jasa Arsilan? Simak ulasan Wikimedan berikut ini.

Sosok yang menyiapkan tiang bambu untuk mengibarkan bendera merah putih

Proses pengibaran bendera merah putih pada tanggal 17 Agustus 1945 [sumber gambar]Arsilan secara tidak langsung memiliki kaitan erat dengan peristiwa proklamasi pada 17 Agustus 1945 silam. Jelang acara berlangsung, dirinya yang masih berusia remaja menyiapkan dan memasang bambu sebagai tiang pancang bersama sang ayah untuk mengibarkan bendera merah putih.

Sempat tergabung sebagai anggota pasukan PKRI

Sosok kakek yang sempat Tergabung sebagai anggota PKRI [sumber gambar]Sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia, pria berusia 92 tahun itu sempat tergabung dalam tentara Perintis Kemerdekaan Republik Indonesia (PKRI) dan laskar Hisbullah. Ia berjuang dengan ikhlas tanpa pernah meminta imbalan apa pun. Niatnya hanya satu, yakni membantu memerdekakan Indonesia dari tangan penjajah. Pada saat itu ia terpisah dari kedua orang tuanya.

Bekerja sebagai tukang kebun pribadi Presiden Sukarno

Bung Karno dan Ibu Fatmawati berkebun di rumah Jalan Pegangsaan 56, Jakarta [sumber gambar]Arsilan kemudian bertemu dengan seseorang yang akhirnya mempertemukan dirinya dengan kedua orang tuanya. Tak lama setelah berkumpul, ia diajak bekerja sebagai tukang kebun di rumah Presiden Sukarno pada tahun 1945 hingga 1958. Dari sana, dirinya mengenal sosok Sukarno yang disebutnya sangat santun dan tak segan bercengkerama dengan anak buahnya.

Menyambung hidup sebagai pemulung di hari tuanya

Bekerja sebagai pemulung botol plastik bekas [sumber gambar]Arsilan tak selamanya menjadi tukang kebun Sukarno. Zaman yang terus berputar mengantarkan dirinya menjadi seorang pemulung pada saat ini. Hari-harinya banyak dihabiskan di jalanan dengan memungut barang-barang bekas di sekitar Tugu Proklamasi. untuk menambal kebutuhan hidupnya. Hasil paling besar yang didapat pun hanya Rp20 ribu.

Harapan Arsilan pada generasi muda pada saat ini

Arsilan dengan seragam PKRI sambil memulung sampah [sumber gambar]Di usianya yang kini telah beranjak sepuh, Arsilan tidak berharap banyak. Baik kepada keluarga Bung Karno ataupun pemerintah. Sebagai mantan pejuang, ia ingin agar generasi muda mau meneruskan cita-cita para pendahulu mereka. Para pahlawan yang meninggal dalam tempur itu demi negara. “Saya cinta negara ini. Bapak ingin kita semua makmur. Generasi muda yang harus meneruskan cita-cita pejuang,” tutupnya.

Arsilan bukanlah satu-satunya para veteran yang bernasib kurung beruntung di masa tuanya. Ada banyak kisah dari puluhan atau bahkan ratusan dari mereka yang harus terlunta-lunta hingga akhir hayatnya. Semoga saja, kisah Arsilan di atas bisa membuka mata dan hati pemerintah agar mau melihat nasib para veteran yang kurang beruntung di usia senja mereka. Tanpa jasanya mungkin proklamasi yang terjadi tidak seperti yang kita ketahui seperti sekarang.

Komentar
Share :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *