Internasional : Amerika Tinjauan dari Dalam, 12 Februari 2019

Dinamika Amerika Serikat sepekan terakhir diwarnai berbagai peristiwa penting di antaranya ancaman Trump akan memveto ketetapan Kongres mengenai sanksi terhadap Arab Saudi, dan pidato klise Trump mengenai Iran.
Selain itu, upaya AS untuk menggulingkan pemerintahan Nicolas Maduro, dan aksi mogok kerja guru-guru di Denver dan masalah lainnya mewarnai acara Amerika Tinjauan dari dalam pekan ini.


Donald Trump

Trump Ancam Veto Kongres AS mengenai Sanksi terhadap Saudi

Pemerintah Amerika Serikat mengancam akan melakukan veto terhadap resolusi yang dikeluarkan Kongres terkait penghentian dukungan terhadap Arab Saudi.

Kantor berita Reuters (11/2/2019) melaporkan, Presiden Amerika Donald Trump mengancam akan memveto resolusi wewenang perang yang dikeluarkan Kongres, karena resolusi ini dianggap dapat merusak hubungan regional dan kemampuan Amerika dalam mencegah perluasan ekstremisme serta kekerasan.

Sejumlah anggota Kongres dari Demokrat dan Republik dalam rangka menunjukkan penentangan atas kejahatan Saudi di Yaman dan pembunuhan wartawan pengkritik Riyadh, Jamal Khashoggi, dua minggu lalu menyusun draf resolusi terkait wewenang perang pemerintah Amerika. Kongres Amerika bermaksud melakuan pemungutan suara atau voting terkait draf tersebut pekan ini.

Pidato Klise Trump tentang Iran

AS kembali melancarkan tudingan baru terhadap Tehran dengan target untuk melemahkan Republik Islam Iran. Presiden AS, Donald Trump dalam pidato tahunan keduanya yang disampaikan di Kongres AS hari Selasa (5/2) menuding Iran berambisi mengejar program senjata nuklir, meski Tehran berulangkali membantahnya. Trump mengatakan, sanksi terberat telah dijatuhkan terhadap Iran untuk mencegah Tehran meraih senjata nuklir.

Klaim itu disampaikan ketika Badan Energi Atom Internasional (IAEA) dalam berbagai laporannya mengakui komitmen Iran terhadap status nuklir damainya, dan kepatuhan negara ini pada kesepakatan nuklir internasional, JCPOA.

Trump berulangkali mengkritik JCPOA yang dijadikan alasan untuk menarik AS keluar dari perjanjian nuklir internasional tersebut. Menurutnya, keluarnya AS dari JCPOA yang disusul kembalinya sanksi nuklir Washington terhadap Tehran akan memaksa Iran menerima keinginan Gedung Putih. Tapi, tujuan tersebut tidak tercapai, karena Republik Islam tidak pernah bersedia menyerah terhadap tuntutan AS, meskipun menghadapi gelombang tekanan sanksi yang mengalir begitu deras.

Presiden AS dalam pidato tahunan keduanya di Kongres menyinggung masalah lain yang berkaitan dengan Iran. Tudingan Netanyahu dan juga Trump terhadap Tehran yang mereka klaim menyulut instabilitas di Timur Tengah dilakukan untuk mengalihkan opini publik dunia dari daftar panjang kejahatan yang dilakukan Israel dan AS.

Analis internasional, Seyyid Ahmad Hosseini mengatakan, langkah AS keluar dari JCPOA, kembalinya sanksi dan tekanan, terutama di bidang transaksi perdagangan terhadap Iran demi memprovokasi rakyat negara ini supaya menentang pemerintahannya.

AS mengerahkan segenap kekuatannya untuk menekan Iran dan mengucilkan negara ini di arena internasional. Tapi faktanya, Iran tetap berdiri menghadapi semua plot dan konspirasi yang datang bertubi-tubi. Meskipun menghadapi banyak masalah karena sanksi AS, tapi Republik Islam tetap tegar berdiri di usia empat dekade ini.

Sejatinya, tudingan Trump dalam pidato terbarunya terhadap Tehran, dalam pandangan pejabat Iran mungkin hanya dilihat sebagai cara presiden AS memutar kaset lamanya.


Juan Guaido, presiden Venezurla yang didukung AS

Allan Nairn Sebut Utusan AS di Venezuela sebagai Penjahat Perang

Jurnalis investigasi Amerika Serikat menyebut utusan khusus Presiden Donald Trump untuk urusan Venezuela sebagai penjahat perang dan pendukung pembunuhan massal di Amerika Latin.

Jurnalis investigasi Amerika, Allan Nairn dalam wawancara dengan media Perancis, Le Grand Soir (6/2/2019) mengatakan, utusan khusus Donald Trump untuk urusan Venezuela, Elliott Abrams adalah seorang penjahat perang sayap kanan ekstrem yang pada tahun 1991 dikecam di Kongres Amerika karena berbohong.

Allan Nairn juga mengungkap keterlibatan Elliott Abrams dalam kudeta tahun 2002 di Venezuela untuk menggulingkan Presiden Hugo Chavez. Ia menuturkan, di masa pemerintahan George W. Bush, Abrams juga memainkan peran kunci dalam serangan rezim Zionis Israel ke Jalur Gaza.

Kepala Komando Selatan AS, Laksamana Craig Faller dengan alasan melindungi personil diplomatik AS, mengancam Venezuela dengan tindakan militer.

“Kami siap melindungi personil AS dan fasilitas diplomatik jika perlu,” kata Laksamana Faller dalam briefing dengan Komite Layanan Angkatan Bersenjata Senat, seperti dikutip Sputniknews, Jumat (8/2/2019).

Dia juga menuding Rusia dan Cina mendukung Presiden Venezuela Nicolas Maduro, dan mengklaim bahwa pendekatan Rusia di Venezuela, Nikaragua, dan Kuba telah menimbulkan kekhawatiran.

Krisis baru di Venezuela dimulai setelah pemimpin oposisi, Juan Guaido menyatakan dirinya sebagai presiden interim negara itu pada 22 Januari lalu. Langkah ini langsung mendapat dukungan dari Washington.

Sejumlah negara termasuk Rusia, Cina, Iran, Turki, Kuba, Afrika Selatan, Meksiko dan Uruguay mengecam keputusan AS dan mendesak semua pihak menghormati kedaulatan nasional dan independensi politik Venezuela.

Pendiri Amazon Mengaku Diperas Trump dan MBS

Pendiri Amazon menyatakan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammad bin Salman berkolusi dengan sebuah media massa untuk memeras dirinya.

“Mingguan National Enquirer menyebar sejumlah foto dan pesan pribadi dan memeras saya,” papar Jeff Bezos seperti dilaporkan France 24.

Bezos menambahkan bahwa alasan ancaman ini adalah permusuhan dirinya dengan Presiden AS Donald Trump.

CEO perusahaan raksasa Amazon menyinggung hubungan antara Mohammad bin Salman (MBS) dengan mingguan National Enquirer, dnegan mengatakan, salah satu motif permusuhan MBS dengan dirinya mengenai aktivitas jurnalis Washington Post, Jamal Khashoggi, yang dibunuh di konsulat Arab Saudi di Istanbul.

Donald Trump dalam berbagai cuitannya di Twitter berulangkali menuding CEO Amazon ini berusaha menghancurkan popularitasnya melalui koran Washington Post.


Mogok Kerja guru-guru di Denver

Pertama dalam 25 Tahun Guru-guru di Denver, AS Mogok Kerja

Denver Public Schools menyebutkan ada sekitar 4.725 guru yang bekerja di distrik Denver, negara bagian Colorado, Amerika Serikat dan sekitar 2.600 guru tercatat tidak masuk kerja pada hari Senin (11/2/2019).

Stasiun televisi CBS News (11/2) melaporkan, untuk pertama kalinya dalam 25 tahun, para guru di Denver melakukan mogok kerja setelah negosiasi mereka dengan pejabat Denver Public Schools terkait gaji pokok, tak kunjung membuahkan hasil.

Juru bicara Asosiasi Guru Denver, Rob Gould mengatakan, kami berharap masalah ini dapat segera diselesaikan tapi nyatanya setelah melakukan tawar menawar sekitar 15 bulan, pejabat Denver Public Schools tidak mau mendengarkan kami. Ia menambahkan, kami berharap mereka mendengarkan kami karena para guru ingin bersama anak muridnya di kelas. Para guru Denver itu meninggalkan piket untuk berunjuk rasa di gedung Capitol pada hari Senin (11/2).(PH)

 

Loading...
Silahkan Share Ke Yang Lain Ya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *