GBPUSD Turun Kembali Menghapus Kenaikan Ketika Inggris Akan Di Lockdown Nasional

Daftar Indodax

Wikimedan.com – Setelah kemarin mencatatkan kenaikan di sesi akhir pekan menjelang pembukaan pasar Eropa hari Jumat (30/10), GBPUSD turun kembali. Mata uang Poundsterling Inggris harus rela kembali melemah dan membawa pasangan terjun ke sekitar nilai tukar 1,2920. Padahal hari Kamis kemarin, pasangan berusaha untuk mematahkan penurunan yang terjadi dua hari tanpa jeda.

Sepertinya faktor yang membawa pasangan mata uang GBPUSD turun adalah pandemi virus Corona di kawasan Inggris. Pandemi yang terus mengkhawatirkan menyebabkan pemerintah terpaksa memberlakukan penguncian nasional atau lockdown. Hal itu sangat membawa dampak negatif bagi perekonomian. Melihat kekhawatiran ini, permintaan mata uang Dolar AS langsung melesat dan mendominasi di atas Poundsterling Inggris.

Wakil dari pemerintah Inggris mengatakan bahwa ada tekanan yang kuat untuk memberlakukan lockdown nasional di Inggris. Pasalnya berdasarkan laporan terbaru, kasus pandemi di Inggris meningkat sangat tinggi terutama untuk daerah Yorkshire.

Tekanan lockdown semakin kuat ketika Public Health England mengatakan pada laporan pengawasan mingguan bahwa pandemi di kawasan itu naik pada umur 10 sampai 19 tahun. Tentunya ini sangat mengkhawatirkan mengingat umur tersebut digadang-gadang memiliki kekuatan melawan virus Corona.

Direktur Pelaksana IMF yaitu Kristalina Georgieva memberikan saran kepada Menteri Keuangan Inggris yaitu Sunak untuk mendorong investasi publik. Selain itu juga mendorong dukungan kesejahteraan rakyat. Terutama yang kehilangan pekerjaan akibat krisis kesehatan saat ini.

Faktor yang membawa GBPUSD turun saat ini juga datang dari masalah Brexit. Meski kemarin dilaporkan banyak kemajuan yang dicapai oleh wakil kedua pihak, tapi baru-baru ini kembali buntu tidak ada perkembangan. Meski begitu Brexit masih memiliki peluang terjadi dengan kesepakatan. Pergerakan GBPUSD selanjutnya akan fokus pada dinamika Brexit tersebut dan juga beberapa data ekonomi AS dan Inggris.

Share :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *