4 Fakta Kelam Kehidupan di Korea, Tak Seromantis di Drakor

Wikimedan.com – 4 Fakta Kelam Kehidupan di Korea, Tak Seromantis di Drakor. Popularitas konten hiburan asal Korea Selatan yang mengglobal membuat banyak warga dunia memimpikan bisa berkunjung atau bahkan tinggal di Negeri Ginseng. Mereka membayangkan kehidupan yang indah dan romantis seperti yang nampak di drama Korea (drakor).

Meski demikian, apa yang Anda lihat di layar bisa jauh berbeda dengan faktanya. Berikut adalah sejumlah fakta kelam kehidupan masyarakat di Korea Selatan yang dirangkum tim CNBC Indonesia dari berbagai sumber:

 

1. Obsesi terhadap universitas bergengsi

Masyarakat Korea Selatan terkenal sangat kompetitif. Namun, kompetisi di sini sudah masuk level yang menyiksa sampai-sampai siswa SD banyak yang mengikuti kursus tambahan usai sekolah yang berlangsung hingga pukul 10 malam. Tujuannya tak lain agar bisa masuk universitas bergengsi.

Kritikus mengatakan kompetisi sangat ketat untuk masuk ke universitas top Korea telah mendorong siswa melakukan hal-hal yang tidak masuk akal, seperti memalsukan karya ilmiah. Sebab, untuk bisa diterima di universitas ternama, mereka dituntut memiliki prestasi akademik dan keterampilan yang sempurna.

Karena kondisi tersebut, bisnis yang menyediakan layanan konsultasi penerimaan perguruan tinggi berkembang pesat, menawarkan program yang dirancang untuk membantu klien masuk ke universitas bergengsi.

Jika Anda penikmat drama Korea, Anda mungkin pernah menonton serial Sky Castle yang tayang pada 2019 lalu. Sky Castle mengungkap bagaimana sisi gelap obsesi terhadap sekolah-sekolah elit yang menampilkan para wanita dari kalangan superkaya: istri politisi dan istri dokter. Tekanan sosial yang dibebankan pada siswa memaksa seorang anak perempuan berbohong bahwa dia berkuliah di Universitas Harvard selama satu tahun.

2. Tekanan sosial yang tinggi

Budaya kompetitif yang menyiksa berlanjut sampai ke universitas dan dunia profesional. YouTuber Priscilla Lee, putri dari pasangan berdarah Korea yang kini tinggal di Indonesia, mengungkap bagaimana budaya kompetitif dan tekanan sosial membuat banyak masyarakat di Negeri Ginseng nyaris tak pernah istirahat.

“Saking kompetitifnya, istirahat pun kamu merasa bersalah. Aku selalu merasa begitu pas tinggal di Korea. Misal aku mau rebahan saja enggak enak sama diri sendiri, terbebani,” ujarnya, lewat video yang diunggah di kanal YouTube Priscilla Lee.

“Kesannya enggak normal kalau kamu enggak capek,” tambahnya.

 

3. Angka bunuh diri yang tinggi

Tekanan sosial yang tinggi menyebabkan banyak orang depresi. Di Korea, Anda akan sering mendengar berita siswa yang bunuh diri karena tidak lulus ujian masuk perguruan tinggi.

Korea Selatan memiliki tingkat bunuh diri tertinggi di antara negara-negara yang menjadi anggota Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). Dalam laporan yang disampaikan Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Korea Selatan, angka kematian bunuh diri Korea, atau jumlah bunuh diri per 100.000 orang, adalah 24,7 pada 2018. Angka tersebut dua kali lipat lebih tinggi dibanding rata-rata tingkat bunuh diri negara OECD, yakni di level 11.

Para ahli mengatakan penyebab bunuh diri sangat kompleks, tidak hanya karena masalah kesehatan pribadi dan mental tetapi juga terkait dengan faktor ekonomi dan tekanan sosial. Fakta ini salah satunya terlihat dari laporan tentang sejumlah artis dan influencer Korea yang mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri.

4. Banyak orang enggak menikah dan punya anak

Kehidupan yang keras membuat banyak orang memutuskan untuk hidup sendiri, mereka enggak menikah dan punya anak. Pilihan hidup ini terpaksa diambil karena kehidupan ekonomi yang sulit. Banyak generasi muda mengeluhkan sulitnya mendapatkan pekerjaan yang layak di tengah perlambatan ekonomi yang berkepanjangan.

Sebagai akibatnya, Korea Selatan menghadapi krisis populasi. Angka kelahiran bayi terus anjlok dari tahun ke tahun. Pada Februari 2022, jumlah rata-rata anak yang dikandung seorang wanita Korea Selatan dalam hidupnya mencapai titik terendah sepanjang masa, yakni hanya sebesar 0,81 tahun lalu, turun dari 0,84 tahun lalu. Ini menandai tahun keempat berturut-turut di mana tingkat kesuburan berada di bawah 1 persen.

Share :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *