Tambah 3 Aturan Super Ketat, Rakyat Korea Utara Malah Makin Menderita

Daftar Indodax

Tambah 3 Aturan Super Ketat, Rakyat Korea Utara Malah Makin Menderita – Hampir seluruh penjuru negeri tahu, jika negara Korea Utara memang berbeda dari negara-negara lain di dunia. Ada keunikan yang asing bagi kita, warga negara lain, jika seandainya saja kita yang menjadi rakyatnya. Negara yang tengah dipimpin Kim Jong Un ini, dari dulu memang sudah memberikan banyak peraturan yang tak masuk akal bagi rakyatnya. Pemimpin negara yang baru terbentuk setelah Perang Dunia ke-II itu, memberlakukan peraturan-peraturan aneh sebagai alasan ingin melindungi rakyatnya dari pengaruh dunia luar.

Termasuk adanya pandemi Covid-19 yang berbahaya. Telah dilaporkan, Jong Un menambahkan beberapa aturan aneh yang semakin ketat demi rakyat Korea Utara. Tapi apa benar rakyat Korea Utara bisa beradaptasi dan tidak dirugikan oleh aturan-aturan tersebut? Mungkin sobat Wikimedan sudah penasaran ya? Yuk kita simak aturan-aturan aneh tersebut!

Penutupan perbatasan negara

Terhitung mulai tanggal 20 Januari 2020, Kim Jong-Un memerintahkan untuk penutupan akses Korea Utara dengan negara lain. Hingga saat ini, WHO belum menerima laporan kasus Covid-19 yang terjadi di Korea Utara. Pemerintah kerap mengatakan 0 kasus Covid-19 di sana, namun beberapa warga yang tinggal di dekat perbatasan mengatakan, 5400 orang telah didiagnosis dan lebih dari 10 orang telah meninggal dunia.

Pyongyang secara konsisten mengambil tindakan luar biasa untuk menahan penyebaran virus ke seluruh negeri. Konsekuensinya dilaporkan suram. Perserikatan Bangsa-Bangsa mengatakan Korea Utara menderita efek negatif yang serius dari pandemi ini, ditambah pula dampak ekonomi dari kebijakan isolasi diri negara itu.

Larangan masuknya obat-obatan dari China

Kabar ini beredar minggu lalu dari Pyongyang. Kim Jong-Un telah melarang obat-obatan dari China untuk masuk ke dalam Korea Utara. Hal ini diberlakukan setelah salah satu pejabat tinggi dalam birokrasi ekonomi negara meninggal dunia. Sebelumnya, pejabat tersebut memang menderita penyakit jantung dan darah tinggi sehingga harus dirawat di Rumah Sakit Universitas Kedokteran Pyongyang. Di rumah sakit tersebut, pejabat itu mendapatkan suntikan cocarboxylase yang berasal dari China.

Belum diketahui suntikan itu lah yang menjadi penyebab utama pejabat tersebut meninggal dunia, namun Kim Jong-Un sudah terlanjur emosi dan mengeluarkan semua obat buatan China yang ada di rumah sakit (termasuk vaksin yang masih diteliti). Ia juga melarang obat buatan China masuk ke Korea Utara. Hal ini semakin membuat rakyat Korea Utara menderita di tengah pandemi ini. Ditutupnya perbatasan negara tahun lalu sudah menghambat masuknya bahan pokok dan kebutuhan sehari-hari lainnya. Ditambah obat-obat antibiotik yang kebanyakan didatangkan dari China.

Hukuman bagi siapa yang menyisakan makanan

Hukuman ini awalnya datang dari Partai Buruh yang kemudian disetujui Kim Jong Un lalu. Bagi rakyat yang menyisakan makanan akan mendapat hukuman berat. Hal ini dikarenakan beberapa bencana alam yang menghantam Korea Utara membuat persediaan bahan pokok menipis.

Selain itu, Presiden Kim Jong Un juga menambah pengetatan dalam penyimpanan bahan pangan bagi rakyat. Seperti contoh, perayaan Tahun Baru yang menyediakan banyak makanan dilarang diadakan. Hanya diperbolehkan banyak sayur dan buah, sedangkan kue beras dan roti dilarang disajikan, sedangkan tamu yang datang hanya diperbolehkan makan mie.

Bagaimana ya rasanya jika kita sekarang yang hidup menjadi rakyat negara nuklir tersebut? Bahan pangan menipis, Covid-19 belum berakhir, dan tidak mendapat pasokan obat-obatan antibiotik, juga sang presiden semakin mengisolasi negara secara ketat dari negara lain. Tidak bisa dibayangkan jika kita hanya dihadapkan akan pilihan maut datang dari kelaparan dan Covid-19 saja.

Share :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *