Sedikit Penjelasan Tentang Startup Minuman Dan Juga Mixue

Pasang Iklan Disini

Wikimedan.com – Sedikit Penjelasan Tentang Startup Minuman Dan Juga Mixue. Gerai es krim dan minuman manis Mixue kini mulai “menjajah” berbagai tempat di Indonesia, tak hanya offline tapi juga online. Di media sosial netizen ramai membicarakan waralaba asal China ini karena penyebarannya yang begitu masif, hingga muncul istilah “malaikat pencatat ruko kosong”.

Mixue menjadi incaran karena harganya yang murah-meriah. Untuk es krim cone saja, hanya dibanderol Rp8 ribuan. Sedangkan, beberapa varian lain harganya pun tak lebih dari Rp25 ribuan.

Selain di negara asalnya China, Mixue Ice Cream & Tea juga ada di,Vietnam, Malaysia, dan Singapura. Pada 2022, Mixue telah membuka 20.000 outlet di China. Di luar negeri, jumlah outlet Mixue sudah melebihi 10.000 lokasi.

Tidak hanya gerai minuman kekinian, Mixue ternyata juga mengoperasikan pabrik bahan baku sendiri termasuk 5 pusat pergudangan dan logistik regional.

Kini, valuasi seluruh bisnis Mixue diperkirakan mencapai US$3,17 miliar atau sekitar Rp 49,54 triliun. Kabarnya, Mixue berencana melepas saham di Shenzhen dan menggalang US$ 918 juta (Rp 14,3 miliar)

Lalu bagaimana kabar merek minuman manis lainnya, seperti Haus, Kopi Kenangan, Fore dan Goola? Mari kita bahas satu per satu.

1. Haus

Minuman kekinian memang menjadi salah satu bisnis yang kian menjamur, apalagi dengan harga yang terjangkau sehingga banyak digemari. Peluang inilah yang diambil oleh Gurfon Syarif dan teman-temannya dalam membangun bisnis Haus.

Merek Haus berada di bawah naungan PT. Inspirasi Bisnis Nusantara yang bergerak di bidang Food & Beverage.

Saat ini sudah memiliki 197 cabang outlet yang tersebar di 18 kota di Pulau Jawa. Selain ekspansi ke kota-kota besar lainnya di Indonesia, Haus juga akan terus melakukan pengembangan dan inovasi.

Dua tahun lalu BRI Ventures melalui Dana Ventura Sembrani Nusantara menyuntikkan dana sebesar Rp 30 miliar ke Haus. Anak usaha Bank BRI bergabung dalam pendanaan Seri A perusahaan.

2. Kopi Kenangan

Siapa yang tak tahu gerai kopi lokal satu ini? Kopi Kenangan didirikan oleh Edward Tirtanata, James Prananto dan Cynthia Chaerunissa pada 2017.

Kini Edward menjabat sebagai Chief Executive Officer (CEO), James sebagai Chief Business Development Officer (CBDO) dan Cynthia sebagai Chief Marketing Officer (CMO).

Kopi Kenangan memiliki 850 gerai di 64 kota di Indonesia. Tahun ini, perusahaan yang berdiri pada 2017 ini telah ekspansi ke Malaysia.

Mengutip Crunchbase, Kopi Kenangan diketahui telah berstatus unicorn dengan mengumpulkan total US$ 333 juta (Rp 5 triliun) dalam enam kali putaran pendanaan.

Kopi Kenangan juga telah melebarkan sayap ke bisnis FMCG dengan meluncurkan kopi dalam kemasan serta membangun pusat produksi bahan baku sendiri.

3. Fore

Didirikan oleh tiga orang co-founder yakni Robin Boe, Jhoni Kusno, dan Elisa Suteja, Fore Coffee mengusung model bisnis new retail yang menggabungkan gerai offline dan online.

Fore Coffee telah membuka 42 gerai baru sepanjang 2021 hingga awal tahun 2022. Pendanaan terakhir Fore Coffee menurut Crunchbase sebesar US$30 juta (sekitar Rp 435 miliar). Dengan demikian, total pendanaan yang telah mereka dapatkan US$39,5 juta.

4. Goola

Startup yang menjual minuman khas Indonesia dalam kemasan minuman cepat saji ini didirikan oleh Gibran Rakabuming bersama dengan Benz Budiman dan Kevin Susanto pada tahun 2018. Dalam waktu singkat, Goola telah miliki 5 toko di Jakarta.

Alpha JWC kemudian memberikan modal Rp 71 miliar untuk mendukung ekspansi Goola yang berambisi membuka 100 gerai dalam beberapa tahun ke depan.

Namun, ambisi Goola sepertinya teradang pandemi. Justru bisnis lain yang didirikan Gibran, Mangkokku, yang tahun ini meraih modal segar Rp 101 miliar. Mangkokku kini dikelola oleh tiga pendiri lainnya yaitu Kaesang Pangarep, Arnold Poernomo, dan Randy Kartadinata.

Share :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *