Sapioseksual, Orang yang “Jatuh Cinta” dengan Kecerdasan

Apakah Anda mudah merasa kagum dan tertarik pada orang-orang dengan kecerdasan di atas rata-rata? Apakah Anda menikmati percakapan dan diskusi yang mengasah otak? Jika iya, mungkin saja Anda seorang sapioseksual. Apabila istilah tersebut mungkin terdengar asing bagi Anda, artikel ini akan membahas lebih lanjut mengenai istilah yang sedang populer ini.

Apa itu sapioseksual?

Kata “sapioseksual” sendiri berasal dari istilah “sapiens”, yang memiliki arti bijaksana. Jadi, dapat dikatakan bahwa sapioseksual adalah seseorang yang memiliki ketertarikan terhadap orang lain berdasarkan tingkat kecerdasan dan isi pikirannya.

Dilansir dari NPR.org, popularitas istilah tersebut mulai meningkat saat sebuah aplikasi kencan daring, OkCupid, memperkenalkan berbagai macam pilihan orientasi seksual untuk penggunanya. Salah satunya adalah sapioseksual.

Masing-masing orang memiliki preferensi tersendiri dalam memilih pasangan, mulai dari penampilan fisik, selera musik, hingga kesamaan hobi. Beberapa di antaranya memiliki ketertarikan emosional, bahkan seksual, pada orang dengan tingkat kepandaian tertentu.

Menurut Diana Raab, Ph.D., dalam artikelnya di Psychology Today, orang-orang yang mengaku sebagai sapioseksual percaya bahwa otak manusia merupakan organ seks terbesar. Mereka lebih bergairah dan antusias pada lawan bicara yang punya rasa ingin tahu, berpikir tajam, serta terbuka akan hal-hal baru.

Apabila diibaratkan sebagai foreplay dalam hubungan seks, hal-hal yang dapat “merangsang” seorang sapioseksual adalah percakapan berbau filsafat, politik, atau psikologi. Namun, tidak selamanya ketertarikan ini menjurus pada seksualitas.

Terkadang, sapioseksualitas juga dapat terjadi pada hubungan pertemanan biasa. Contohnya, Anda lebih suka berteman dengan orang-orang pintar karena Anda bisa mendiskusikan isu-isu seputar politik atau ekonomi, bisa dikatakan hal tersebut adalah bagian dari sapioseksualitas.

Fenomena ini didukung oleh sebuah jurnal penelitian yang terdapat di Intelligence. Penelitian yang dilakukan kepada 383 orang dewasa tersebut mencari tahu kualitas apa yang dicari dalam pasangan, serta ketertarikan mereka pada tingkat kecerdasan yang berbeda-beda.

Hasilnya menunjukkan bahwa “kecerdasan” menempati posisi kedua pada kualitas yang paling disukai dalam pasangan, setelah “baik dan pengertian”.

Mengapa seorang sapioseksual “jatuh cinta” dengan tingkat kecerdasan pasangannya?

Raab menambahkan di dalam artikelnya bahwa identitas manusia terbentuk dari apa yang terjadi selama masa kecilnya, termasuk bagaimana dia memandang hubungan asmara.

Faktor-faktor yang mendasari hal tersebut meliputi hubungan dengan orangtua, pengalaman cinta pertama, serta pengalaman intim pertama dengan pasangan.

Ada kemungkinan kita mencari pasangan dengan sifat atau kualitas diri yang tidak pernah kita miliki. Fenomena ini ternyata juga dapat membantu kita mengenal diri sendiri lebih dalam.

Misalnya, sewaktu masih kecil, orang-orang di sekitar Anda sering mengatakan Anda kurang pintar. Atau mungkin, Anda memiliki orangtua yang selalu menuntut Anda mendapat ranking satu di sekolah.

Itu sebabnya, setelah beranjak dewasa, Anda selalu ingin menjadi pribadi yang lebih cerdas, dan Anda juga mencari kualitas tersebut pada calon pasangan Anda. Aspek-aspek masa kecil inilah yang dapat berpengaruh pada preferensi asmara serta seksual Anda.

Namun, tidak menutup kemungkinan seorang sapioseksual juga mempertimbangkan kualitas lain di samping kecerdasan pasangannya. Misalnya seperti penampilan fisik, kebaikan hatinya, atau selera humor.

Loading...
Silahkan Share Ke Yang Lain Ya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *