Raja Idrus dan Ratu Markonah, Penguasa Fiktif yang Berhasil Ngeprank Presiden Soekarno

Daftar Indodax

Prank mungkin jadi salah satu konten yang sering kita temui di media sosial. Pasalnya konten seperti ini memang menarik dan lucu sehingga bisa jadi obat penghilang rasa penat. Oleh sebab itu bukan hal yang aneh kalau makin hari, semakin ada saja prank baru dan segar karena rasa lapar orang Indonesia atas konten seperti ini yang seolah tak pernah terpuaskan.

Nah bicara soal prank, ternyata hal ini sudah ada sejak era Soekarno. Gak hanya satu atau dua orang saja yang kena prank, namun se-Indonesia pun jadi korban. Bisa dibilang kalau ini jadi prank tingkat nasional pertama yang pernah terjadi. Biar gak penasaran dengan prank itu? Simak ulasan di bawah ini.

Prank besar pada masa pemerintahan Soekarno

Jika kamu beranggapan kalau prank di Indonesia booming akhir-akhir ini saja, maka itu salah besar. Pasalnya prank bahkan sudah ada pada era Soekarno dulu. Dilansir dari laman Kompas, Raja Idrus dan Ratu Markonah adalah pelaku prank terbesar pada masa Soekarno.

Mereka mengaku sebagai Raja dan Ratu Anak Dalam bahkan sampai diundang Soekarno sebagai tamu kehormatan di istana. Kedatangan mereka ke istana saja sudah banyak media cetak waktu itu yang siap memberitakannya. Namun sayang seribu sayang, ternyata Idrus dan Markonah bukanlah raja dan ratu yang sebenarnya alias semua hanya tipuan semata.

Keceplosan bahasa Jawa hingga bertemu teman lama

Ada banyak kisah mengenai terbongkarnya modus penipuan Idrus dan Markonah ini, namun ada dua versi yang paling umum. Yang pertama adalah keceplosannya ratu Markonah menggunakan bahasa Jawa ketika berada di Istana. Ajudan yang mendengar hal itu pun segara curiga dan melaporkannya kepada Soekarno, alhasil tidak jadilah agenda di Istana.

Ada pula versi kedua mengenai bertemunya raja Idrus dengan teman lamanya ketika berada di pusat perbelanjaan. Teman lamanya yang berprofesi sebagai tukang becak pun mengadu kalau raja Idrus adalah kenalannya yang juga punya pekerjaan yang sama. Alhasil timbul kecurigaan mengenai asal-usul dari raja Idrus pada waktu itu.

Ada pula yang mengatakan hal ini strategi politik

Namun uniknya lagi, ada beberapa teori yang mengatakan prank skala nasional pada masa orde lama ini malah strategi politik. Dilansir dari laman Tirto, pada masa itu memang pemberontakan PRRI sedang gencar-gencarnya. Nah pada masa itulah Idrus muncul sebagai orang terpandang di mana kerajaannya dekat dengan daerah PRRI.

Soekarno sejatinya tidak tertipu namun justru memanfaatkan hal ini sebagai momentum menjatuhkan pemberontakan. Dengan terbongkarnya Idrus sebagai seorang penipu, maka otomatis nama PRRI juga akan jatuh. Bisa dibilang kalau Soekarno memanfaatkan Idrus untuk mengekang pergolakan pemberontakan. Namun sayang hal ini juga berefek buruk juga pada Soekarno karena banyak yang menganggap beliau juga tertipu.

Asal-usul dari dua raja fiktif masa lalu

Banyak versi yang menjelaskan mengenai asal-usul dari Raja Idrus ini. Ada yang bilang kalau dirinya adalah ketua kampung saja yang mengaku sebagai raja. Ada pula yang mengaku kalau dirinya hanyalah tukang becak. Sedangkan Markonah, semua sumber mengatakan hal yang sama kalau dirinya adalah seorang PSK kelas teri yang disewa oleh Idrus.

Selepas kasus mereka terbongkar, nama mereka jarang terdengar beberapa saat. Hingga akhirnya Idrus tertangkap kembali karena mengaku sebagai anggota TNI dan memanfaatkan jabatannya. Sedangkan Markonah tertangkap lagi karena kasus PSK. Markonah mengaku terjun lagi ke dunia prostitusi setelah bercerai dari Idrus.

Wah, lumayan edan juga yah kasus prank masa lalu ini. Bayangkan saja bahkan sekelas presiden Soekarno pun juga kena imbasnya. Konten prank memang selalu menarik, namun akan lebih baik kalau diselipkan hal positif di dalamnya.

Share :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *