Kisah Nestapa Rakyat RI di Perbatasan, Lahan Disikat Malaysia hingga Terpaksa Pindah Warganegara

Daftar Indodax

Kehidupan masyarakat di daerah perbatasan memang banyak menyisakan peristiwa-peristiwa yang membutuhkan perhatian dari pemerintah. Seperti yang baru-baru ini terjadi, puluhan hektare lahan milik warga Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan tiba-tiba berubah menjadi milik Malaysia karena adanya perubahan patok perbatasan.

Kejadian semacam ini memang bukanlah hal baru di wilayah perbatasan Indonesia dan Malaysia. Beberapa warga Indonesia juga dikabarkan memilih untuk menjadi WN Malaysia karena beragam faktor. Salah satunya adalah kesenjangan sosial yang terjadi. Seperti apa kisah mereka? Simak ulasan Wikimedan berikut ini.

Lahan warga Pulau Sebatik mendadak ‘diserobot’ pemerintah Malaysia

Patok 1 RI-Malaysia yang tidak jauh dari kantor camat Sebatik utara [sumber gambar]

Warga Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan mendadak heboh lantaran puluhan hektare lahan miliknya mereka diklaim oleh Malaysia. Hal itu terjadi setelah adanya pemasangan patok baru di areal patok 1 dan 2 Sebatik sehingga masyarakat merasa tanah mereka telah ‘diserobot’. Proses pengukuran ulang yang dilakukan oleh Badan Informasi Geospasial (BIG) bersama Jabatan Ukur dan Pemetaan (JUPEM) Malaysia pada Juni 2019, membuat 44 warga merasa dirugikan karena lahannya kini dimiliki oleh Malaysia.

Ratusan warga Sanggau Kalimantan Barat Pilih Jadi WN Malaysia

Potret warga di perbatasan Indonesia-Malaysia, Desa Gun Tembawang, Entikong, Kalimantan Barat [sumber gambar]

Minimnya sarana dan prasarana publik di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia, membuat warga penduduk Dusun Gun Tembawang, Desa Gun Tembawang, Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat (Kalbar), memilih untuk pindah menjadi warga negara Malaysia. Hal tersebut dilakukan demi memenuhi kebutuhan hidup dan di samping adanya perkawinan lintas negara antarwarga lokal dengan Malaysia.

Produk Malaysia lebih disukai dibanding buatan Indonesia

Gula ilegal dari Malaysia yang diamankan oleh Polisi [sumber gambar]

Tak hanya soal kewarganegaraan, masyarakat di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara (Kaltara), lebih memilih produk kebutuhan sehari-hari buatan Malaysia dibanding dalam negeri. Harga yang lebih mahal menjadi penyebab sembako asal Indonesia sulit bersaing dengan mereka asal Malaysia yang disubsidi pemerintahnya. Terlebih, produk negeri Jiran itu juga masuk secara ilegal di sana.

Masyarakat Kalimantan Barat masih mengimpor listrik dari Malaysia

Ilustrasi jaringan listrik [sumber gambar]

Minimnya infrastruktur ketenagalistrikan di wilayah Kalimantan Barat (Kalbar) membuat masyarakat setempat harus mengimpor dari tetangga sebelah, Malaysia. Penyebab utamanya adalah pembangkit dan transmisi tidak mencukupi pasokan listrik yang dibutuhkan pada saat memasuki beban puncak. Sampai kapan hal ini terjadi? Entahlah.

Keluar masuk hutan demi dapatkan persediaan sembako

Kerasnya upaya warga menembus jalanan yang rusak tanpa infrastruktur yang memadai [sumber gambar]

Sulitnya akses infrastruktur yang memadai bagi warga di perbatasan di Apau Kayan, Malinau, membuat mereka harus rela bersusah payah saat hendak membeli sembako. Pasalnya, warga Apau Kayan harus melalui jalan yang rusak parah sebagai satu-satunya akses. Tak jarang, mereka terpaksa bermalam di tengah hutan belantara demi mendapatkan sembako saat menuju ke Long Bagun, di Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu), Kalimantan Timur.

BACA JUGA: 5 Kenyataan Pahit Warga Indonesia Yang Tinggal di Perbatasan

Kesenjangan dalam banyak hal yang masih dirasakan oleh masyarakat perbatasan. Salah satunya adalah persoalan ekonomi yang dinilai sangat timpang bak bumi dan langit. Hal semacam ini masih terjadi lantaran kesejahteraan masyarakat di wilayah perbatasan cenderung belum dijangkau oleh pemerintah. Ya, semoga saja peristiwa di atas bisa menjadi penggerak bagi pihak-pihak terkait agar mau membantu mengatasi persoalan yang terjadi.

Share :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *