Dato Sri Tahir, Si Crazy Rich Surabaya yang Malah Benci dengan Crazy Rich, Kok Bisa?

Daftar Indodax

Topik tentang Crazy Rich selalu menarik untuk diperbincangkan. Sebutan “crazy rich” sendiri mucul sejak film Crazy Rich Asians diluncurkan pada 2018 lalu. Dari film ini kemudian banyak bermunculan cerita para netizen yang punya pengalaman berteman dengan orang super kaya, atau bekerja dengan para crazy rich. Ya, siapa sih yang nggak pengen jadi crazy rich atau paling nggak berada dalam circle para crazy rich dengan segala privilege-nya?

Ternyata ada lho sosok yang tidak tertarik dengan harta, walau kekayaan itu malah semakin mendekatinya. Dato Sri Tahir yang merupakan orang terkaya ke-6 di Indonesia versi majalah Forbes. Pria asal Surabaya yang juga sering dipanggil Tahir ini berbeda dari orang kebanyakan. Dirinya justru merasa tidak nyaman bergaul dengan orang-orang kaya lainnya. Kok bisa? Intip yuk, yuk gimana kisah hidup Dato Sri Tahir yang bisa kamu jadikan panutan.

Menempati posisi ke-6 orang terkaya di Indonesia

Dato Sri Tahir atau yang lebih akrab disapa Tahir merupakan seorang pengusaha, investor, filantropis, sekaligus pendiri Mayapada Group. Pria asal Surabaya, kelahiran 26 Maret 1952 in,i sukses menempati posisi ke-6 ke dalam daftar orang terkaya di Indonesia versi majalah Forbes. Bisa dikatakan, ia masuk golongan Crazy Rich Surabaya.

Ketika di usia 22 tahun, Tahir pernah asal nyeplos membalap kesuksesan mertuanya, Mochtar Riady, pemilik dari Lippo Group, meski saat itu ia belum punya rencana matang untuk membangun bisnisnya. Namun seperti diamini oleh semesta, Tahir berhasil mengungguli posisi mertuanya sebagai orang terkaya di Indonesia (Mochtar Riady ada di posisi 12).

Total kekayaan miliaran US Dollar

Sempat dilarang oleh sang mertua untuk bergabug dengan bisnis keluarganya, Dato Sri Tahir kini memiliki total kekayaan mencapai 4,5 miliar US Dollar atau setara dengan Rp63 triliun (kurs Rp14.000 per dolas AS). Sementara untuk kekayaan sang mertua, Mochtar Riady sebesar 2,3 miliar US Dollar atau Rp32,2 triliun.

Berasal dari keluarga tidak mampu

Kesuksesan yang Tahir raih bukan didapat dengan instan. Dia bahkan sempat beberapa kali bangkrut hingga jutaan dolar AS saat menjalankan bisnisnya dulu. Tahir mengaku jika dirinya dulu berasal dari keluarga tak mampu. Ayahnya dulu merupakan juragan becak, sementara sang ibu hanya penjaga toko sederhana.

“Ini cerita masa kecil saya, jadi habitat saya adalah orang yang tidak mampu,” ujar Tahir. Beberapa kejadian tidak mengenakkan sering terjadi di keluarganya, mulai dari dihina, diremehkan, ditekan, hingga dilempari batu oleh penyewa becak sampai menyebabkan kepala ibunya bocor.

Rasa dendam yang tumbuh atas pengalaman pahit Tahir, membuatnya makin bersemangat untuk membuktikan ke semua orang bahwa ia bisa menjadi “seseorang” suatu saat nanti. “Karena saya orangnya fighter, saya dendam. Suatu hari saya bales. Tapi dendam ini kan bisa positif dan negative effect,” tambahnya.

Benci orang kaya sejak kecil

Sosok Tahir sangat berbeda dengan crazy rich kebanyakan. Ia malah mengaku sering tidak nyaman bergaul dengan orang kaya. “Orang kaya itu menindas, merampas hak orang. Jadi saya tidak senang. Saya dengan gamblang bilang tidak senang dengan orang kaya,” tegas Tahir.

Tahir juga menyampaikan, “Saya benci orang kaya sejak kecil, karena itu lebih banyak orang tua saya yang mewarisi. Mereka kan sering mengobrol tadi ya, cerita kok tadi ketemu orang diginiin (diremehkan). Karena saya orang tegar, saya dendam. Suatu hari akan saya bales. Balasnya terserah, apa dengan prestasi atau seperti apa”. tambahnya.

Membagikan 50 Persen kekayaannya

Dalam perjalanan bisnis Tahir, tentu ia pernah merasakan jatuh bangun. Kisahnya dimulai dari berdagang modal Rp700 ribu, membangun bisnis leasing lalu bangkrut, hingga terlilit hutang sebesar Rp10 juta US dolar. Gara-gara masalah ini, Tahir mendapatkan tawaran dari Mochtar untuk mengurus bisnis garmen. Bisnisnya pun berjalan lancar, sehingga ia bisa melunasi hutang-hutangnya. Kemudian di tahun 1989, ia mengajukan izin ke Bank Indonesia untuk membangun Bank Mayapada.

Selain berprofesi sebagai seorang pengusaha, Tahir juga merupakan seorang filantropis yang memberikan 50 persen hartanya untuk membantu masyarakat. Kebiasaan ini sudah sejak kecil ditanamkan oleh keluarganya, yang bisa kamu jadikan teladan. Bahwa sesukses apapun kamu, jangan lupa bersedekah.

Kisah dari pengusaha Dato Sri Tahir tadi bisa dijadikan inspirasi untuk tidak patah semangat dan berhenti di tengah jalan dalam berusaha mencapai sebuah tujuan. Meski memiliki total kekayaan hingga puluhan triliun, sisi filantropisnya patut jadi panutan kita semua

Share :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *