Berkat Indonesia, Harga ‘Sembako’ Dunia Turun!

Pasang Iklan Disini

Wikimedan.com – Berkat Indonesia, Harga ‘Sembako’ Dunia Turun! Indeks harga pangan (Food Price Index) yang dirilis oleh Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) turun ke 157,4 pada Mei 2022 dari 158,3 bulan sebelumnya, Penurunan indeks salah satunya disebabkan oleh melandainya harga minyak nabati setelah Indonesia menghentikan larangan ekspor minyak sawit mentah (CPO) dan produk turunannya.

Kendati lebih rendah dibandingkan April 2022, FAO Food Index bulan lalu masih 22,8% lebih tinggi dibandingkan Mei 2021. Dengan penurunan tersebu, maka indeks harga ‘sembako’ global sudah melanda selama dua bulan beruntun. Indeks harga pangan dunia sempat melesat ke level 159,7 di Maret, atau menjadi level tertinggi yang pernah dicatat FAO sejak 1990.

“Penurunan indeks didorong oleh melandainya harga minyak nabati dan produk susu (dairy). Sementara harga sereal dan daging tetap meningkat,” tutur FAO dalam laporannya, pekan lalu.

 

FAO mencatat indeks harga minyak nabati ada di angka 229,3 di Mei, turun 3,5% dibandingkan April. Penurunan terjadi di hampir semua minyak nabati mulai dari sawit, bijih matahari, kedelai, hingga rapeseed oil.

FAO mengatakan permintaan yang sedikit mereda serta kebijakan pemerintah Indonesia yang menghapus larangan ekspor CPO dan produk turunannya menjadi pendorong utama melandainya indeks harga minyak nabati.

“Pembatasan ekspor membuat kondisi pasar menjadi tidak pasti sehingga harga melonjak dan menjadi sangat labil. Melandainya harga minyak nabati saat ini menunjukkan betapa pentingnya dihapuskannya larangan ekspor. Ketika larangan ekspor dicabut, ekspor berjalan lebih lancar,” tutur kepala ekonom FAO Máximo Torero Cullen, dalam laporan FAO.

Seperti diketahui, pemerintah Indonesia sempat melarang ekspor CPO dan produk turunannya pada 28 April-23 Mei 2022.

 

FAO food price indexSumber: FAO

 

Indeks harga produk dairy juga mulai melandai ke 141,6 di Mei, turun 3,5% dibandingkan April. Penurunan pada Mei menjadi yang pertama dalam dua bulan. Meskipun menurun, indeks produk dairy masih 16,9% lebih tinggi dibandingkan Mei 2021.

Harga semua jenis susu turun di Mei, terutama susu bubuk. Harga turun karena menurunnya permintaan karena lockdown di China. Melandainya harga susu terjadi di tengah masih ketatnya pasokan global.

Harga mentega juga turun drastis karena menurunnya permintaan serta membaiknya pasokan dari Oseania.

Sebaliknya, indeks harga daging dan sereal masih belum turun. Indeks harga sereal tercatat 173,4, naik 2,2% dibandingkan April 2022 dan melonjak 29,7 dibandingkan Mei 2021.

Harga gandum di pasar internasional sudah merangkak naik dalam empat bulan beruntun. Pada Mei tahun ini, harga komoditas tersebut naik 5,6% dibandingkan April. Harga sereal juga melesat 56,2% dibandingkan Mei tahun lalu.

“Kenaikan tajam harga gandum disebabkan oleh larangan ekspor gandum India. Larangan ekspor semakin meningkatkan kekhawatiran akan pasokan setelah adanya gangguan panen di sejunlah negara serta perang Rusia-Ukraina,” tulis FAO. India melarang ekspor gandum sejak 14 Mei 2022 untuk menjaga pasokan domestik.

Sebalikya, harga bijih di luar gandum dan beras turun 2,1% di bulan Mei tetapi naik 18,1% dibandingkan setahun lalu. Harga beras naik selama lima bulan beruntun sementara jagung sudah mulai turun.

“Perbaikan panen di Amerika Serikat, peningkatan pasokan musiman di Argentina serta dimulainya panen jagung membuat jagung turun 3%,” tulis FAO.

FAO memproyeksi produksi sereal untuk tahun 2022/2023 akan ada di angka 2,78 miliar ton, lebih rendah dibandingkan pada tahun 2021/2022 yang tercatat 2,80 miliar ton. Penurunan produksi menjadi yang pertama kalinya dalam empat tahun.

Akibat berkurangnya produksi, pasokan sereal yang diperdagangkan di pasar global pada tahun 2022/2023 diperkirakan hanya mencapai 462,8 juta ton. Angka tersebut lebih rendah dibandingkani 475,4 juta ton di tahun 2021/2022.

Untuk gandum, produksinya diperkirakan merosot menjadi 770,8 juta ton di tahun 2022/2023 dari 776,8 juta ton di tahun 2021/2022. Berkurangnya produksi membuat jumlah gandum yang diperdagangkan di pasar global akan berkurang menjadi 188,9 juta ton di tahun 2022/2023 dari 192,1 juta ton di tahun 2021/2022.
Produksi beras juga diperkriakan akan melandai menjadi 519,5 juta ton di 2022/2023 dari 520,8 juta ton di tahun 2021/2022.

 

“Ada 193 juta orang yang tidak memiliki akses ke makanan karena harganya yang terus melambung. Jika perang terus berlanjut, saya khawatir pasokan akan terus berkurang sehingga kesulitan dalam mengakses bahan pangan akan terus meningkat,” tutur Máximo .

Sementara itu, harga indeks daging naik 0,5% pada Mei menjadi 122. Kenaikan dipicu oleh meningkatnya permintaan di tengah menurunnya pasokan akibat wabah flu yang menimpa hewan ternak.

Indeks gula juga turun 1,1% menjadi 120.3 di Mei. Penurunan tersebut menjadi yang pertama dalam dua bulan terakhir. Namun, ada kekhawatiran indeks akan meningkat kembali meningkat karena gangguan musim panen di Brazil yang merupakan eksportir terbesar gula di dunia.

Share :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *