Bengkulu Dilanda Banjir dan Longsor, 12 Ribu Warga Mengungsi, 17 Meninggal Dunia

Wikimedan – Jumlah korban bencana banjir dan longsor yang melanda sembilan kabupaten/kota di Provinsi Bengkulu terus bertambah. Data terakhir hingga pukul 19.00 WIB, tercatat 17 orang meninggal dunia.Sementara masih ada 9 orang hilang, 2 orang luka berat dan 2 orang luka ringan. Upaya penanggulangan bencana pun terus dilakukan oleh pemerintah pusat dan daerah.Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo terjun langsung di Bengkulu untuk memantau kondisi lokasi bencana. Kedatangannya pun disambut oleh Gubernur Bengkulu, Rohidin Mersyah, yang langsung memberi penjelasan ihwal mengenai dampak dan penanganan bencana.Untuk membantu operasional penanganan darurat, Kepala BNPB Doni Monardo telah menyerahkan bantuan dana siap pakai sebesar Rp 2,25 milyar kepada Gubernur Bengkulu. Selanjutnya dana siap pakai tersebut akan diberikan kepada BPBD kabupaten/kota sesuai tingkat kerusakan akibat bencana.“Kami juga memerintahkan kepada Deputi Penanganan Darurat BNPB dan Deputi Logistik Peralatan BNPB untuk segera memenuhi kebutuhan darurat yang diperlukan,” kata Doni dalam keterangannya, Minggu (28/4).Adapun, kata Doni, kendala yang dihadapi dalam penanganan darurat adalah sulitnya untuk menjangkau ke lokasi titik-titik banjir dan longsor. Pasalnya, seluruh akses ke lokasi kejadian terputus total. Koordinasi dan komunikasi ke kabupaten/kota cukup sulit dilakukan karena aliran listrik banyak yang terputus.“Pendistribusian logistik terhambat karena akses jalan banyak yang terputus karena banjir dan longsor. Titik lokasi bencana banjir dan longsor sangat banyak sedangkan jarak antar titik banjir dan longsor berjauhan, sehingga menyulitkan untuk mencapai semua lokasi. Terbatasnya dana/anggaran yang memadai sehingga menyulitkan operasional penanganan bencana,” tuturnya.Doni menyatakan, pihaknya telah memberikan arahan kepada jajaran BPBD dan SKPD di provinsi Bengkulu terkait penanggulangan bencana banjir dan longsor tersebut. Menurutnya, bencana hidrometeorologi atau bencana karena faktor alam di Indonesia terus meningkat.“Dampak ekonomi yang ditimbulkan juga cukup besar sehingga mengganggu pertumbuhan pembangunan,” kata Doni dalam keterangannya, Minggu (28/4).Selain faktor alam dan intensitas curah hujan yang meningkat, faktor antropogenik atau ulah tangan manusia yang merusak alam dan lingkungan dinilai lebih dominan menyebabkan bencana hidrometeorologi yang meningkat.Pemicunya, kata dia, bisa saja berasal dari deforestasi, degradasi hutan dan lingkungan, berkurangnya kawasan resapan air, sampai tata ruang yang tidak mengindahkan peta rawan bencana.“Itu telah menyebabkan makin rentannya daerah-daerah terhadap banjir. Kita harus memulihkan alam. Merawat alam dan lingkungan. Jika alam seimbang maka siklus hidrologi juga akan seimbang. Kita jaga alam, alam jaga kita,” pungkasnya.BNPB juga mendaftarkan kebutuhan yang mendesak bagi para korban pengungsian akibat banjir dan longsor. Di antaranya, tenda pengungsian, perahu karet, selimut, makanan siap saji, air bersih, family kid, peralatan bayi, lampu emergency, peralatan rumah tangga untuk membersihkan lumpur dan lingkungan, sanitasi, dan jembatan baley.Di sisi lain, BNPB juga mengimbau masyarakat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan mengingat potensi hujan berintensitas tinggi masih dapat berpotensi terjadi di wilayah Indonesia.Diketahui, hingga Minggu (28/4), pukul 19.00 WIB, tercatat 17 orang meninggal dunia, 9 orang hilang, 2 orang luka berat dan 2 orang luka ringan. Sebaran dari 17 orang meninggal dunia terdapat di Kabupaten Bengkulu Tengah 11 orang, Kota Bengkulu 3 orang, dan Kabupaten Kepahiang 3 orang.Sebanyak 12.000 orang mengungsi yang tersebar di banyak tempat dan 13.000 orang terdampak bencana. Jumlah ternak yang mati sebanyak 106 ekor sapi, 102 ekor kambing/domba dan 4 ekor kerbau. Sedangkan kerusakan fisik meliputi 184 rumah rusak, 7 fasilitas pendidikan dan 40 titik sarana prasarana infrastruktur.(aim)

Loading...
Silahkan Share Ke Yang Lain Ya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *