Benarkah Kerupuk Kulit Bisa Obati Maag & GERD? Ini Faktanya

Wikimedan – Benarkah Kerupuk Kulit Bisa Obati Maag & GERD? Ini Faktanya. Kerupuk kulit adalah salah satu makanan ringan yang bisa dijadikan camilan atau pendamping makanan utama. Rasanya yang renyah, gurih, dan memiliki harga yang terjangkau membuat kerupuk yang umumnya terbuat dari kulit sapi ini populer di tengah masyarakat Indonesia.

Selain menjadi teman makan, tidak sedikit orang yang menganggap dan menggunakan kerupuk kulit sebagai obat sakit maag. Bahkan, ada yang menyebut bahwa kerupuk kulit merupakan obat maag alami karena sifat lengketnya bisa menghalangi asam klorida atau HCl dalam tubuh mengenai dinding pada lambung yang terluka.

Lantas, benarkah kerupuk kulit bisa mengobati dan mengurangi nyeri akibat maag?

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan (Kemenkes), dr. Siti Nadia Tarmizi mengungkapkan, hingga saat ini belum ada studi ilmiah atau kajian ilmiah yang dapat membuktikan bahwa kerupuk kulit bisa mengatasi penyakit maag.

“Belum ada studi ilmiahnya, ya. Tidak ada kajian ilmiah (yang membuktikan kerupuk kulit bisa mengatasi maag),” ujar dr. Nadia kepada CNBC Indonesia, Senin (6/1/2023).

Pasang Iklan Disini

Bila melihat proses pembuatannya yang direndam minyak dan digoreng dalam waktu yang cukup lama, kerupuk kulit memiliki kandungan minyak yang cukup tinggi. Selain itu, kulit yang digunakan sebagai bahan dasar kerupuk juga mengandung kadar lemak yang tinggi. Alih-alih menyembuhkan, kandungan minyak dan lemak yang terdapat pada kerupuk kulit justru bisa memperparah kondisi yang ditimbulkan akibat maag.

Dilansir dari Healthline, makanan yang tinggi lemak dapat memperburuk peradangan pada lapisan lambung yang terjadi saat maag kambuh. Sebab, makanan yang mengandung lemak tinggi membutuhkan waktu lebih lama untuk dicerna. Semakin lama suatu makanan berada di dalam lambung, semakin banyak pula asam lambung yang dihasilkan untuk membantu mencerna makanan tersebut.

Semakin banyak asam yang diproduksi, asam lambung dapat naik hingga memicu terjadinya gastroesophageal reflux disease atau GERD. Dilansir dari Mayo Clinic, GERD adalah kondisi saat asam lambung berulang kali mengalir kembali ke kerongkongan yang menghubungkan mulut dan lambung.

Bila GERD terjadi, penderitanya dapat merasakan heartburn atau rasa terbakar di dada yang dapat menjalar ke leher dan tenggorokan. Selain itu, gejala lain yang bisa dirasakan, seperti mual, nyeri dada, kesulitan menelan, batuk kronis, suara serak, hingga bau mulut.

Terdapat sejumlah cara yang bisa dilakukan untuk menghindari risiko maag atau GERD, yakni perbaiki pola makan, hindari mengonsumsi alkohol, kelola stres dengan baik, hentikan kebiasaan merokok, hingga makan dengan porsi yang kecil.

Share :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *