60 Persen Sungai di Dunia Mulai Mengering, Bisa Jadi Pemicu Perang di Masa Depan

Daftar Indodax

60 Persen Sungai di Dunia Mulai Mengering, Bisa Jadi Pemicu Perang di Masa Depan. Isu bahwa pemanasan global ternyata bukan kabar asal-asalan. Sebab berbagai tanda sudah mulai muncul satu per satu, meski masih minim mendapatkan perhatian. Sebut saja mencairnya es di Antartika, munculnya lubang-lubang besar misterius, hingga mengeringnya sungai-sungai di dunia.

Ya, kamu tidak salah baca. Berdasarkan riset terbaru yang tercantum dalam Nature.com, antara 51 hingga 60 persen sungai di dunia sudah tak lagi mengalir. Artinya lebih dari separuh sungai yang ada di dunia mengalami kekeringan. Padahal sungai adalah salah satu sumber yang tak hanya menyediakan air, namun juga berperan untuk sumber makanan manusia juga.

Berapa lama manusia bisa hidup tanpa air?

Manusia bisa bertahan hidup sampai tiga minggu tanpa makanan. Ini tercatat dalam sejarah, yaitu ketika Mahatma Gandhi yang berusia 74 tahun berhasil bertahan selama 21 hari meski tidak makan. Selama rentang waktu tersebut, ia hanya mengonsumsi air. Lantas kini pertanyaannya, apakah Gandhi atau manusia lainnya bisa bertahan selama itu jika tanpa air?

Dilansir dari Kompas, Randall K Packer, seorang profesor Biologi dari George Washington University menyebutkan bahwa manusia bisa bertahan tanpa air maksimal selama tujuh hari. Pendapat berbeda diutarakan oleh Claude Piantadosi dari Duke University. Menurutnya, berapa lama manusia bisa bertahan hidup tanpa minum bergantung pada suhu. Jika pada suhu normal, diperkirakan manusia bisa bertahan kurang lebih 100 jam. Makin dingin suhunya, makin lama pula manusia bisa bertahan.

Alasan sungai dan sumber air mulai mengering

71% permukaan bumi memang tertutup oleh air. Namun fakta ini ternyata tidak mengurangi kenyataan bahwa sungai dan sumber air bisa mengering. Tak perlu jauh-jauh lihat secara menyeluruh di dunia, di Indonesia saja masih sering kok kita jumpai wilayah-wilayah yang kekeringan dan minim air bersih ketika musim kemarau datang. Ini lantas menimbulkan pertanyaan, apa saja alasan sungai atau sumber air bisa mengering.

Ada beberapa yang bisa disebutkan, di antaranya adalah penggunaan air yang berlebihan untuk konsumsi pribadi, pertanian, manufaktur, hingga energi. Selain itu, perubahan iklim yang drastis juga menjadi salah satu penyebabnya. Hal ini berdampak pada aktivitas cuaca yang salah satu akibatnya adalah makin jarang terjadi hujan hingga terjadi kekeringan.

Dampak jika sumber air makin mengering

Tanpa bermaksud menakut-nakuti, namun jika sumber air di bumi makin mengering dari waktu ke waktu hal-hal ini bisa saja terjadi:

  • Air bersih, baik untuk konsumsi maupun kebutuhan lainnya, akan semakin sulit dicari. Jika pun ada, pasti akan dijual dengan harga yang mahal.
  • Tidak ada lagi pemandangan hijau, vegetasi akan mulai mati karena tidak ada persediaan air. Hamparan tumbuhan, lebatnya hutan, warna-warni bunga akan digantikan dengan pemandangan tanaman coklat yang layu dan mati.
  • Hanya akan ada satu musim yaitu kemarau. Tak hanya terik tapi bisa amat sangat menyengat hingga membuat kulit meleleh. Hal ini terjadi karena awan berhenti berformula dan curah hujan berhenti.
  • Spesies hewan dan tumbuhan makin berkurang. Air penting untuk ekosistem, jika mengering bisa membuat tempat tinggal hewan dan tumbuhan menghilang.
  • Di masa mendatang, negara di Timur Tengah mungkin tidak akan lagi berperang memperebutkan minyak namun air. Sebab mencari sumber air akan lebih sulit dan penting dibandingkan minyak.
  • Gunung berapi makin berkurang dan tak lagi garang. Tidak adanya samudra akan berpengaruh pada aktivitas vulkanik sebab air merupakan alat penting yang menggerakkan erupsi.
  • Manusia dan hewan terancam punah namun akan ada kehidupan ‘baru’ di bumi. Dilansir dari Envirotech, akan muncul mikroba yang nantinya disebut sebagai ekstrimofil yang berevolusi sehingga bisa hidup tanpa air. Mikroba ini justru hidup karena memanen nutrisi dari karbon monoksida.

Apa yang bisa mulai dilakukan agar bumi tak kehabisan air?

Yang paling sederhana tentu memulainya dari rumah. Sebisa mungkin gunakan air dengan hemat dan bijak, misal selalu tutup keran ketika sedang menyikat gigi atau tidak berlama-lama ketika mandi di pancuran. Terdengar sepele, namun pasti masih ada dampaknya terhadap keberadaan air di bumi. Selain itu, memilih produk dari perusahaan yang memiliki tanggung jawab terhadap manajemen penggunaan air juga bisa mulai kamu gunakan.

Jika kita tetap melakukan persis seperti apa yang kita lakukan kini, di tahun 2040 tidak akan ada air yang tersisa. Itulah yang diucapkan oleh Profesor Benjamin Sovacool dari Aarhus University, Denmark.

Karenanya, ada baiknya jika mulai sekarang kita lebih bijak dalam menggunakan air bersih baik untuk konsumsi atau kebutuhan lainnya. Agar kelak anak cucu kita masih bisa mengakses air dengan mudah.

Share :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *