4 Cerita di Balik Desa Boneka di Jepang

Daftar Indodax

4 Cerita di Balik Desa Boneka di Jepang. Jepang memang terkenal dengan budaya dan teknologi majunya yang luar biasa. Banyak orang sangat ingin berkunjung ke sana, entah itu untuk melancong saja atau mencari pekerjaan. Kehidupan yang glamor, berwarna, namun tetap menjunjung budaya, seolah jadi sebuah surga dunia tersendiri bagi sebagian orang.

Namun pemandangan yang berbeda akan kamu lihat di salah satu desa di Jepang sana. Pasalnya bukannya manusia, di desa ini kamu malah akan sering menemui boneka yang jumlahnya super banyak. Ternyata ada cerita di balik semua itu yang bikin miris, lalu sebenarnya kenapa bisa begitu? Simak ulasan di bawah ini.

Penghuninya kebanyakan adalah boneka

Sebuah desa biasanya selalu ramai dengan hiruk-pikuk kegiatan penduduknya mulai pagi hingga petang. Namun keadaan berbeda nampak di desa Nagoro Jepang. Alih-alih terlihat banyak orang, yang ada malah seolah berada di desa hantu yang sepi tanpa manusia.

Ya, yang ada di sana ternyata hanya boneka-boneka yang didandani mirip dengan orang. Ada yang sedang belajar di sekolah, berkebun, duduk-duduk santai, dan kegiatan lainnya. Kalau kamu berada di sana, pastinya ngeri sendiri merasakan suasananya. Mirip sekali dengan yang digambarkan dalam cerita atau film horor. Apalagi jumlah boneka itu yang sangat banyak, seolah seluruh desa diisi oleh boneka.

Lalu dari mana boneka itu berasal?

Dengan adanya boneka berjumlah tak logis di desa Nagoro ini, pastinya timbul pertanyaan besar. Dari mana semua boneka ini berasal? Rupanya semua boneka ini dibuat oleh penghuni asli bernama Ayako Tsukimi. Dia adalah satu dari dua puluh tujuh orang yang masih tinggal di sana.

Dengan kemampuannya menjahit dan membuat bonekanya itu, dirinya ingin mengenang para penduduk desa yang telah pergi ke kota atau telah tiada. Penduduk di sana memang sangat sedikit, dari dua puluh tujuh orang di sana, usia paling muda adalah sekitar 50-an. Oleh sebab itu, kita bakal lebih sering bertemu dengan boneka daripada penduduk aslinya.

Terdampak depopulasi yang sangat nyata

Kejadian di desa Nagoro ini sejatinya menjadi cerminan bagaimana keadaan Jepang saat ini. Negeri Matahari Terbit ini memang mendapatkan masalah karena angka kelahiran di sana yang sangat rendah. Oleh sebab itu bukan hal yang aneh kalau data statistik menunjukkan jika penduduk dengan usia 60 tahun ke atas lebih banyak dari pada usia lainnya.

Para penduduk muda di daerah Nagoro ini pindah pada tahun 1960 setelah perang dunia ke ibukota. Pasalnya hanya di Tokyo kemungkinan mendapatkan penghasilan yang layak ketimbang di desa. Akhirnya setelah berangsur-angsur penduduknya pindah, tersisa lah Ayako Tsukimi dan penduduk lansia lainnya seperti yang saat ini.

Kampung boneka jadi daya tarik tersendiri

Sejatinya adanya ‘penduduk boneka’ ini adalah sebuah daya tarik tersendiri. Awalnya hal ini dianggap sesuatu yang menakutkan, namun lama-kelamaan hal ini malah memikat para pengunjung datang ke sana. Ya, tak jarang para pengunjung dari luar negeri bahkan berkunjung beberapa kali ke desa itu karena selain melihat boneka-boneka yang unik juga keindahan alamnya sangat asri.

Hal ini jadi harapan baru bagi penduduk lansia yang ada di sana, mereka berharap agar para pemuda mulai kembali memandang desa itu sehingga menetap tetap di sana dan membuatnya jadi ramai seperti dulu lagi.

Keadaan di desa Nagaro ini memang unik, hal ini jadi sisi lain Jepang yang jarang kita lihat. Ya, sampai saat ini negeri tersebut tengah berjuang agar bisa meningkatkan kembali angka kelahiran di sana. Kalau tidak, nasib negara akan hancur karena tak ada penerus bangsa.

Share :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *