Susu untuk Anak, Baiknya yang Seperti Apa?



Ada banyak jenis susu yang dijual di pasaran. Mulai dari susu sapi segar, susu bubuk, susu UHT, susu skim, “susu” kental manis, dan masih banyak lagi. Nah dari semua jenis susu ini, mana sih susu untuk anak yang paling baik?

Meski sama-sama susu sapi, tidak semua jenis susu sama

Meski berasal dari satu sumber yang sama, tidak semua susu sapi memiliki kandungan dan tujuan pemakaian yang sama. Kenyataannya beberapa jenis susu sebetulnya bahkan tidak boleh dulu diberikan pada anak-anak yang masih dalam tahap tumbuh kembang, karena kandungan nutrisinya sangat sedikit.

Untuk itu, Anda perlu mengenali jenis-jenis susu yang umum ada di pasaran seperti berikut ini.

1. Whole milk

Susu whole milk mengandung setidaknya 3,25% lemak susu dan 8,25% bukan lemak padat. Setidaknya 50% asupan kalori dari susu ini berasal dari lemak.

2. Susu rendah lemak

Dari namanya sudah terlihat bahwa susu jenis ini mengandung lemak yang lebih sedikit dibandingkan susu whole milk. Susu rendah lemak mengandung 0,5-1,5% lemak susu dan dapat menyediakan 23% kalori yang berasal dari lemak untuk tubuh Anda.

3. Susu skim atau susu tanpa lemak

Walaupun diklaim sebagai susu tanpa lemak atau bebas lemak, nyatanya susu skim masih mengandung lemak meski jumlahnya sangat sedikit.

Proses pembuatan susu skim melibatkan pembuangan lemak sebanyak-banyaknya hingga meningggalkan tidak lebih dari 0,5% lemak susu. Lemak dalam susu skim hanya menyumbang 5% kalori, sedangkan total kalori yang dimilikinya hanya sekitar setengah dari total kalori whole milk.

4. Susu evaporasi

Susu evaporasi dibuat dengan cara menghilangkan sekitar 60% air dalam susu. Susu kemudian dihomogenisasi, diperkaya dengan vitamin D dan vitamin A. Susu evaporasi tersedia dalam bentuk whole milk, susu rendah lemak, maupun susu skim.

5. Susu kental manis

Susu kental manis (SKM) adalah susu yang melalui proses kondensasi untuk menghilangkan setengah volume cairannya agar menjadi kental. Susu kental manis sengaja ditambahkan gula dalam jumlah banyak yang berfungsi sebagai pengawet. Selain itu, SKM pada umumnya memiliki kandungan protein yang rendah.

6. Susu UHT (ultra high temperature)

Susu UHT diproses dalam suhu yang sangat tinggi untuk mematikan berbagai mikroorganisme asing dalam susu dan memperpanjang umur simpan.

7. Susu bubuk

Susu bubuk dibuat dengan cara menguapi susu cair sehingga kandungan airnya benar-benar hilang dan menjadi butiran bubuk. Dalam satu sendok makan susu bubuk tanpa lemak umumnya mengandung 27 kalori, 94 mg kalsium, vitamin A, dan vitamin D.

Setelah melihat segala macam jenis susu yang tersedia di pasaran, jangan sembarangan memilih susu untuk anak. Mengapa? Karena susu memiliki peran yang cukup penting bagi pertumbuhan anak. Susu dapat membantu memenuhi nutrisi yang dibutuhkan anak di masa pertumbuhannya. Oleh karena itu, penting bagi Anda untuk memilih susu yang mengandung cukup nutrisi.

Lalu, jenis susu untuk anak seperti apa yang paling baik?

Pilihlah susu pertumbuhan (biasanya dalam bentuk susu bubuk formula) yang khusus untuk anak-anak, sesuaikan dengan usianya. Susu pertumbuhan ini sengaja dirancang untuk membantu memenuhi nutrisi yang diperlukan anak. Tak heran jika susu ini pun mengandung banyak protein, lemak, vitamin, dan mineral yang dibutuhkan anak.

Sesuaikan juga dengan kondisi anak. Beberapa anak mungkin cocok diberikan susu jenis apapun dan beberapa anak lainnya mungkin tidak cocok diberikan susu formula berbahan dasar susu sapi. Nah, untuk anak yang tidak bisa minum susu sapi, Anda bisa memberikannya susu kedelai atau susu yang mengandung sedikit protein susu sapi.

Bagaimana dengan susu UHT dan susu kental manis)? Karena penyajiannya yang lebih mudah dan rasanya yang juga enak, beberapa anak mungkin lebih suka diberikan susu tersebut. Namun, bagi anak yang sedang dalam masa pertumbuhan, terutama balita, susu UHT dan SMK masih kurang dapat memenuhi kebutuhan gizinya. Kedua susu tersebut lebih banyak mengandung gula dibandingkan nutrisi pentingnya. Bukan tidak boleh diberikan, tapi sebaiknya jangan terlalu sering.

Baca Juga:



Share :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *