Ratu Thailand Ini Mati Mengenaskan Termakan Aturan Kuno Kerajaannya Sendiri

Daftar Indodax

Ratu Thailand Ini Mati Mengenaskan Termakan Aturan Kuno Kerajaannya Sendiri – Menjadi salah satu anggota keluarga kerajaan, tidak selalu menjamin kehidupannya akan sejahtera  sampai bertahun-tahun lamanya jauh melebihi kehidupan rakyatnya sendiri. Apalagi pada zaman dahulu, dunia belum menyentuh modernisasi dan ketimpangan kemakmuran hidup rakyat biasa dengan kerajaan sangat tampak jelas.

Contohnya saja cerita dari kerajaan Thailand ini. Sungguh malang nasib sang permaisuri yang tutup usia sebelum genap berusia 20 tahun. Ia tewas dengan cara yang konyol juga mengenaskan. Berikut reka kejadian tewasnya Ratu Thailand, Sunandha Kumariratana.

Ratu yang menghapus perbudakan

Namanya Sunandha Kumariratana, putri dari Raja Mongkut (Rama IV) dari kerajaan Siam, Bangkok. Sunandha merupakan istri pertama dari ketiga istri Raja Chulalongkorn (Rama V) dan sempat dikenal menjadi Ratu pemimpin reformis karena telah menghapus perbudakan di wilayah kekuasaannya.

Perjalanan Musim Panas

Pada tahun 1880, Sunandha mengikuti perjalanan bersama para bangsawan lain menuju kediaman musim panas Bang Pa-In di luar Bangkok, dan oleh karena itu Sunandha beserta bangsawan, pelayan, juga penjaga harus menaiki perahu dan menyebrangi Sungai Chao Praya. Tak lupa Sunandha yang tengah hamil juga mengajak anak pertamanya yang berusia belum genap dua tahun, Karnabhorn Bejraratana. Sebelum berangkat, sang ratu dibawa ke perahu khusus sebelum menyebrang yang isinya hanya dirinya juga sang buah hati.

Kemalangan tak terduga

Semua tampak baik-baik saja di atas aliran sungai sampai arus kuat menerjang perahu dan membuat perahu terbalik. Sang Ratu juga anaknya tercebur ke dalam sungai dan tak seorang pun dari pelayan ataupun penjaga ikut terjun ke dalam sungai untuk memberikan pertolongan pada mereka berdua. Tak lama, Sunandha dan buah hatinya pun tenggelam, hal ini menimbulkan duka terdalam bagi Raja Chulalongkorn, kerajaan Siam, juga rakyatnya.

Hukum Kuno Siam

Para pengawal dan pelayan yang hanya berdiam diri menyaksikan peristiwa naas tersebut bukanlah sengaja untuk membuat sang Ratu tenggelam. Namun mereka yang berada di sana tahu, bahwa hukuman mati menanti jika ada salah satu dari mereka yang menyentuh anggota keluarga kerajaan. Belum lagi mitos tentang penguasa sungai juga akan mengutuk orang yang mencoba menolong siapapun yang tercebur, berlaku pada rakyat biasa maupun anggota kerajaan.

Raja sangat merasa kehilangan karena aturan yang ia buat sendiri, Istri juga kedua buah hatinya pergi. Setelah memenjarakan perwira yang memerintahkan untuk tidak menolong sang Ratu, Raja mengadakan upacara pemakaman paling mewah sebagai penghormatan terakhir pada perempuan yang amat sangat ia cintai. Sebagai pengingat peristiwa naas ini, Raja membuat monumen peringatan yang diletakkan di belakang Kerajaan untuk Sunandha Kumariratana dan anak-anak  yang mengakhiri hidup mereka terlalu cepat.

Penyesalan sang Raja setelah tragedi tewasnya Sunandha begitu amat besar, dikarenakan aturan kuno kerajaannya sendiri yang memberikan sekat dari rakyat biasa. Meskipun begitu rakyat dibuat bingung karena ia sendirilah yang meneruskan aturan tersebut tapi ia juga menghukum perwira dan bawahan yang menaati peraturan tersebut.

Tragedi ini menggambarkan bagaimana sebuah keyakinan atau peraturan malah bisa menjadi senjata makan tuan bagi sebuah bangsa, bahkan pemimpinnya sendiri. Itulah mengapa, seiring berjalannya zaman, peraturan kerap mendapat penyesuaian dan dilakukan perubahan agar memudahkan kehidupan manusia dan tidak menjadi bumerang bagi mereka.

Share :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *