Presiden ACT: Tidak Ada yang Lebih Berharga dari Nyawa Manusia

Wikimedan – Tanggap darurat bencana Sulawesi Tengah (Sulteng) memang sudah berlalu. Kini masyarakat setempat berupaya untuk menata kembali hidupnya setelah porak-poranda diguncang gempa.

Ke depan, untuk menekan jumlah korban jika musibah serupa terjadi, Aksi Cepat Tanggap (ACT) melalui Disaster Management Institute of Indonesia (DMII) mengajak masyarakat Sulteng untuk memahami ancaman bencana. Apalagi di Sulteng terdapat gerak aktif sesar Palu-Koro.

Ajakan dikemukakan dalam sebuah seminar yang bertajuk “Gempa Bumi, Tsunami, Likuefaksi Sulawesi Tengah: Sebuah Pelajaran bagi Mitigasi Bencana”. Seminar yang berlangsung di Palu, Rabu (7/11) dihadiri oleh sejumlah pakar. Mereka menyampaikan kajian terkait gempa yang terjadi di Palu 28 September lalu.

Presiden ACT: Tidak Ada yang Lebih Berharga dari Nyawa Manusia
Puing bangunan rumah yang terkena likuefaksi di Palu pada musibah gempa 28 September lalu. (Mugni Supardi/Radar Sulteng/Jawa Pos Group)

Presiden ACT Ahyudin menuturkan, meski bencana gempa dan tsunami memakan korban yang tidak sedikit, namun masyarakat Palu harus tetap bersyukur. Dan, memaknai bencana yang terjadi dengan pikiran positif.

“Salah satu hikmah dari terjadinya bencana adalah, Palu sangat mendunia. Kita harus berpikir hal-hal positif. Hakikatnya, bencana takdir. Takdir dari yang Maha baik, maka kebaikan yang terjadi,” tutur Ahyudin dalam keterangan persnya kepada Wikimedan, Kamis (8/11).

Untuk itu, sambung Ahyudin, bencana menjadikan seluruh pihak untuk lebih mawas diri. Kerugian besar pada bencana alam bukanlah terletak dari banyak materi yang berkurang, melainkan banyaknya korban jiwa.

“Korban 2 ribu orang jangan dianggap kecil. Tidak ada yang lebih berharga dari nyawa manusia,” paparnya.  Maka dari itu dia mengajak seluruh masyarakat untuk tanggap bencana hingga tidak ada lagi korban nyawa.

Adapun para pakar yang hadir dalam seminar itu di antaranya, Abdullah (Dosen dan Peneliti Sesar Palu Koro dari Universitas Tadulak), Daryono (Kabid Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG), Ginda Hasibuan (Kasubid Evaluasi Geologi Teknik, Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan Badan Geologi), dan Sridewanto Edi Pinuji (Kasi Pengkajian Risiko, Kedeputian Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB). Sementara, selaku keynote speaker yakni Gubernur Sulteng Longki Djanggola.

Longki mengapresiasi upaya dari ACT bersama DMII dalam menumbuhkan rasa tanggap bencana bagi masyarakat Sulteng. “Hasil dari kajian ini adalah bagian masukan dari kami Pemprov Sulteng sebagai revisi tata ruang,” paparnya.

Longki berharap kolaborasi pemerintah dan ACT mampu mencapai solusi atas bencana yang terjadi. “Kita sudah menuju ke pemulihan. Adanya dukungan ACT dan relawan-relawan lain membuat lebih cepat proses pemulihan itu. Kami selaku pemerintah tetap tegas dengan strategi-strategi yang tekah kita tetapkan,” ungkapnya.

Lebih jauh dikatakan, Pemprov Sulteng berharap target-target pemulihan yang telah direncanakan lekas tebantu dengan adanya sejumlah organisasi kemanusiaan. Seperti target pemulihan air bersih dan hunian bagi masyarakat.

(iil/JPC)


Kategori : Berita Nasional
Sumber : https://www.jawapos.com/jpg-today/08/11/2018/presiden-act-tidak-ada-yang-lebih-berharga-dari-nyawa-manusia

Loading...
Silahkan Share Ke Yang Lain Ya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *