Perjuangan Atlet Difabel, Demi Medali Sampai Sakit-sakitan

Daftar Indodax







Wikimedan Kendati memiliki kekurangan, atlet difabel Indonesia, Ni Nengah Widiasih tetap mempunyai semangat yang luar biasa. Hal tersebut dapat dilihat melalui perjuangannya di cabang olahraga angkat berat.





Pada 2012, Widiasih berhasil berangkat ke Paralimpik London. Tetapi saat itu dia belum beruntung karena hanya bisa meraih posisi lima besar dunia.






Namum, hal tersebut tidak membuatnya patah semangat. Dia kembali berambisi untuk meraih keberhasilan di Paralimpik Brasil 2016. Untuk mencapai hal tersebut, akhirnya Widiasih mulai memperbanyak jam terbangnya lewat pertandingan.





“Banyak kejuaraan yang saya ikuti. Sebelum itu saya ikuti kejuaraan dunia di Dubai dan masuk rangking tiga dunia untuk pertama kalinya,” ucapnya saat ditemui di Citibank Tower, SCBD, Jakarta.





“Sebelum ke Brasil saya latihan cukup gila. Dari Senin hingga Minggu, dari pagi ke sore. Pelatih sampai bilang saya harus istirahat. Saya akan sakit kalau begini. Tapi saya kembali bilang justru saya akan terasa sakit kalau gagal di Brasil,” tegasnya.





Terbukti, apa yang dikatakan pelatihnya menjadi kenyataan. Dua bulan sebelum berangkat ke Brasil, Widiasih mengalami cedera parah di bagian bahu kanan dan otot leher. Bahkan dia mengungkapkan tulangnya juga agak tergeser.






Dua hari sebelum berangkat, Widiasih mendapatkan mukjizat dari tuhan. Sebab semua rasa sakit yang dialaminya tiba-tiba hilang. Tetapi tetap dia bersikap realistis terhadap hasil yang ada.






“Saat start pertama saya cuma ada harapan di posisi keempat atau kelima dunia. Tetapi saya tetap yakin tuhan masih bersama saya,” ujarnya dengan nada pasrah.





Ternyata keyakinan Widiasih membawa hasil. Di start kedua, harapannya makin naik ketika dia memiliki kesempatan menempati posisi ketiga. Tetapi start ketiga hasilnya makin mendebarkan karena ada kemungkinan dia turun ke posisi empat. Akhirnya doa Widiasih terjawab setelah semua atlet melakukan start ketiga.





Secara mengejutkan dia mampu meraih medali perunggu pada Paralimpik Brasil 2016. Tetapi sayangnya dia harus membayar konsekuensi karena memaksakan kondisi tubuhnya.





“Setelah itu saya demam tinggi. Dua hari tidak bisa bangun. Mungkin karena proses sebelum pertandigan. Tapi saya bersyukur dengan kemenangan itu saya mampu mewujudkan mimpi saya,” tutupnya dengan wajah gembira.





(mat/JPC)


Share :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *