Museum Tsunami Aceh, Mengenang Pahitnya Bencana yang Melanda Serambi Mekkah Tahun 2004

Daftar Indodax

Museum Tsunami Aceh, Mengenang Pahitnya Bencana yang Melanda Serambi Mekkah Tahun 2004 – Tidak terasa sudah hampir tujuh belas tahun terlewati setelah bencana alam besar tsunami menerpa Serambi Mekkah, Aceh. Peristiwa mengerikan ini sangatlah membekas di hati para warga Indonesia, terutama warga Aceh. Tentu sangat sulit untuk melupakan bencana yang datang pada tanggal 26 Desember tersebut.

Setelahnya, banyak pihak turut membantu akan pulihnya Aceh. Mulai dari beragam bantuan material untuk perbaikan Aceh, pemulihan trauma bagi masyarakat Aceh, pembuatan film untuk mengenang peristiwa tersebut, penulisan syair dan novel, hingga dibangunnya Museum Tsunami Aceh. Nah, sekarang kita simak yuk Sobat Wikimedan, bagaimana proses pembuatan Museum ini sampai menjadi tempat destinasi wisata sampai sekarang.

Porak Porandanya Serambi Mekkah

Saat terjadi Tsunami, Minggu (26/12/2004) pagi, warga kota Banda Aceh sedang melakukan aktivitas seperti biasa. Terutama karena hari Minggu, aktivitas di jalan-jalan kota Banda Aceh memang lebih ramai dari hari biasanya. Warga biasa lari pagi, jalan-jalan ke pantai, atau berkumpul di alun-alun kota Banda Aceh yang kebetulan waktu itu juga sedang diadakan lomba lari marathon 10 km. Saat itulah warga tersapu gelombang pasang yang datang secara tiba-tiba. Banyak jenazah ditemukan di pinggir jalan hinga di sekitar lapangan Blang Padang setelah gelombang pasang itu mereda.

Sampai dua hari kemudian, situasi di lapangan Blang Padang masih sama, jejak tsunami masih bisa dilihat dengan begitu nyata. Tak hanya bangunan yang berada di area alun-alun tercerai-berai, tapi juga banyak jenazah ditemukan karena masih ada yang belum dievakuasi. Bangunan fasilitas umum juga rumah hancur, pohon dan tiang listrik tumbang, sampai Pantai Ulele yang rata dengan tanah.

Mengenang bersama Museum Tsunami Aceh

Tidak hanya pembuatan film atau pembangunan monumen Tsunami, berbagai pihak mendirikan Museum Tsunami Aceh yang diresmikan pada tahun 2008. Museum ini ada sebagai tempat untuk mengenang bencana yang terjadi juga para korban yang sudah tiada akibat bencana Tsunami tersebut.

Pihak-pihak yang turut mendirikan adalah Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh-Nias, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, Pemerintah Daerah Nangroe Aceh Darussalam, Pemerintah Kota Banda Aceh, bersama Ikatan Arsitek Indonesia. Museum ini menyimpan sebagian bukti dari bencana Tsunami tahun 2004 dan tidak hanya itu, bangunan ini juga memiliki fungsi sebagai tempat efakuasi jika pada suatu hari ada gempa atau tsunami yang menerjang kembali.

Bukan sembarang museum

Selain menjadi museum juga tempat evakuasi jika ada tsunami yang datang, museum ini juga menjadi pusat pembelajaran. Terdiri dari dua lantai dengan lantai pertama yang merupakan area terbuka. Di lantai pertama, banyak ruangan yang berisi rekam jejak tsunami Aceh tahun 2004. Di sini juga ada sumur doa yang berisi tulisan nama-nama korban tsunami dengan kaligrafi Allah di atasnya. Sedangkan lantai dua berisi ruangan peraga dan semua pengetahuan tentang Geologi yang mencakup gempa tektonik juga Tsunami.

Museum ini terletak di Jalan Sultan Iskandar Muda, Sukaramai, Kecamatan Baiturrachman, Banda Aceh. Jika Sobat Wikimedan sedang berkunjung ke Masjid Baiturrachman, bisa mampir ke museum dengan jalan kaki selama 11 menit atau 1 menit dengan mengendarai kendaraan bermotor. Tarif untuk melihat ke dalam museum juga relatif murah. Mulai dari Rp2.000 rupiah untuk anak-anak/pelajar/mahasiswa, Rp3.000 rupiah untuk orang dewasa, dan Rp10.000 rupiah untuk turis asing. Museum Tsunami Aceh ini bisa dikunjungi setiap hari dari pukul 9 pagi sampai pukul 4 sore.

Dari Ridwan Kamil untuk Aceh

Jika kalian tidak menyangka ya, arsitek yang merancang Museum Tsunami Aceh ini adalah Ridwan Kamil.  Bapak yang kini menjadi Gubernur Jawa Barat tersebut, telah memenangkan sayembara dengan konsep Rumoh Aceh as Escape Hill.

Desain pada lantai pertama museum merupakan ruang terbuka, dibuat seperti rumah tradisional orang Aceh. Selain menjadi sebagai ruang publik, jika terjadi banjir atau tsunami lagi, maka air yang datang, tidak akan terhalangi lajunya. Museum yang menghabiskan dana sekitar Rp70 miliar tersebut juga dilengkapi dengan escape hill, taman bukit yang bisa dimanfaatkan sebagai ranah evakuasi jika banjir atau tsunami datang kembali.

Nah Sobat Wikimedan, sudah tahu kan bagaimana pembangunan Museum Tsunami Aceh ini benar-benar dibangun sepenuh hati juga menjadi tempat merenung atas kejadian Tsunami Aceh 2004. Sudah pasti tempat yang menjadi land mark ke dua di provinsi Aceh tersebut tidak boleh dilewatkan ketika kita memiliki kesempatan untuk berlibur ke sana.

Share :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *