Mengenal Ka’el, Tradisi Suku Bodi di Mana Pria Buncit Jadi Rebutan Para Wanita

Daftar Indodax

Punya wajah bak artis Korea, badan yang kekar dan kulit bersih mungkin jadi standar cowok cakep yang sering kita temui. Alhasil banyak pria melakukan segala cara untuk memenuhi standar tersebut, mulai dari nge-gym, perawatan dan lain-lain. Semua itu dilakukan agar bisa menarik perhatian si doi.

Tapi di Ethiopia, sepertinya standart seperti itu tidak berlaku. Alih-alih badan kekar, yang ada malah perut buncit ala bapack-bapack jadi idola para wanita yang ada di sana. Yang jelas, pria dengan pesona om-om bakal punya harapan dah kalau tinggal di sana. Lalu kenapa bisa begitu? Simak ulasan berikut.

Menjadi gemuk adalah standar khusus dari suku Bodi

Mungkin agak sedikit aneh untuk kita mendengarnya, namun inilah yang terjadi. Para anggota suku Bodi memang memilki sebuah tradisi khusus dimana para pria dengan badan agak buncit dapat status sosial luar biasa. Itu adalah upacara Ka’el, para pria yang mulai cukup umur akan dikumpulkan dan adu kegemukan serta kebuncitan badan.

Bersiap untuk Ka’el [sumber gambar]Pemenangnya tentu mereka yang mempunyai bobot paling banyak dari yang lainnya. Sebelumnya tubuh pria ini akan dilumuri abu terlebih dahulu sebelum penilaian. Di akhir hari, barulah jawaranya akan segara diumumkan oleh para tetua suku. Wah kalau masalah gemuk dan buncit, bapack-bapack di Indonesia nih gak kalah, gimana mau juga ikutan?

Bukan makan junkfood, ternyata mereka wajib konsumsi darah

Ternyata tidak mudah untuk jadi paling buncit dan gendut dalam tradisi Ka’el. Dilansir dari Kumparan, rupanya bukan dengan junkfood atau makanan berlemak lainnya mereka menggemukkan diri. Melainkan, para pria itu wajib minum darah dan susu sebanyak-banyaknya.

Jadi gemuk [sumber gambar]Pun demikian dengan darah yang diperoleh berasal dari sapi, dalam satu hari mereka harus minum banyak dan cepat, pasalnya kalau kelamaan maka darah itu akan mengental. Oleh sebab itu, banyak yang akhirnya perutnya tidak kuat menahan jumlah darah dan susu  yang mereka konsumsi. Namun ada pula yang tetap berusaha bahkan sampai harus dibopong dengan mobil.

Apa yang didapatkan dari perlombaan ini?

Sejatinya yang didapatkan dari perlombaan ini bukanlah hadiah yang berbentuk fisik seperti uang atau hewan ternak. Para pria yang ikut tradisi Ka’el ini hanya mengharapkan penghormatan status sosial yang lebih tinggi. Oleh sebab itu, banyak di antara mereka yang sudah tidak kuat untuk minum darah atau pun susu namun tetap memaksakan diri agar bisa jadi pemenang.

Suku Bodi [sumber gambar]Setelah tradisi berlanjut, pria yang menang akan sangat dihormati dan dihargai di sana. Belum lagi persepsi masyarakat di sana, makin buncit dan gendut seseorang, maka kemungkinan dirinya punya banyak ternak. Alhasil para wanita pun jadi kesengsem pingin juga punya pasangan yang lumayan mapan.

Suku lain juga punya pandangan serupa, namun untuk wanita

Badan gemuk jadi idola lawan jenis, sejatinya bukan suku Bodi saja yang memilikinya. Suku lain yang memiliki pandangan yang sama adalah Mauritania di benua Afrika. Para wanita di suku ini juga sering dicekoki dengan susu agar tubuh mereka ‘mengembang’ dan banyak diberi makan yang sangat berlebih.

Suku Mauritania [sumber gambar]Bagi suku yang satu ini, gemuk adalah simbol kesejahteraan dan hidup berkecukupan. Sebaliknya, kurus adalah simbol dari kemiskinan dan badan yang tidak terawat. Jadi jangan kaget ya kalau di sana mereka yang bertubuh kurus bak model malah bakal jadi perawan tua karena banyak laki-laki yang tidak tertarik.

Memang unik melihat tradisi dari suku ini, di mana yang gendut jadi idola. Di sini kita belajar kalau kecantikan dan ketampanan itu ternyata sangat relatif. Kita bisa dianggap cakep di suatu tempat namun malah dianggap sebaliknya di tempat lain.

Share :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *