Kisah Mundurnya Presiden Kyrgyzstan Usai Didemo Rakyatnya, Ingin Negara Aman Tanpa Pertumpahan Darah

Daftar Indodax

Wikimedan – Kerusuhan yang terjadi usai penyelenggaraan pemilu di Kyrgyzstan tampaknya membuat situasi pemerintahan kian genting. Penyebabnya adalah aksi demonstrasi massa yang mulai berujung ricuh hingga menyulut aksi anarkis dengan pihak keamanan. Tuntutan rakyat pada saat itu hanya satu, yakni membatalkan hasil pemilu.

Diketahui, dua partai yang salah satunya dekat dengan Presiden Sooronbai Jeenbekov untuk sementara berhasil meraup kemenangan. Namun massa yang tak puas dengan hasil tersebut, melawannya dengan demonstrasi dan kerusuhan. Jeenbekov pun akhirnya mengambil sikap demi keamanan dan menghindari pertumpahan darah.

Memilih untuk mengundurkan diri guna mengakhiri kerusuhan yang terjadi

Presiden Sooronbai Jeenbekov memutuskan untuk mundur dari kursi kepresidenan [sumber gambar]Presiden Kyrgyzstan Sooronbay Jeenbekov akhirnya mengundurkan diri pada Kamis (15/10/2020), guna mengakhiri polemik yang terjadi pasca pemilu yang ditentang banyak pihak. Protes massa sendiri mulai merebak setelah partai-partai yang dekat dan setia dengan Jeenbekov meraup kemenangan pada 4 Oktober lalu. Segera, lautan massa yang tidak puas dengan hasil pemilu mulai menyulut demonstrasi yang berujung kerusuhan.

Alasan Jeenbekov mundur demi rakyatnya dan hindari pertumpahan darah

Pengunjuk rasa meminta Presiden Jeenbekov untuk mundur [sumber gambar]Jeenbekov sendiri mengakui jika ia memilih mundur demi keamanan negara dan menghindari pertumpahan darah rakyatnya sendiri. Ia tidak ingin dikenang dalam sejarah Kyrgyzstan sebagai presiden yang mengizinkan pertumpahan darah, atau melakukan penembakan terhadap rakyatnya sendiri. “Saya telah mengambil keputusan untuk mundur,” kata Jeenbekov dalam pernyataan yang dirilis oleh kantornya.

Sempat mengimbau agar aparat keamanan tidak semena-mena terhadap rakyat

Petugas keamanan tampak menembakkan pelontar gas air mata [sumber gambar]Saat kerusuhan berlangsung semakin brutal, polisi sejatinya telah siap menertibkan dengan cara kekerasan. Namun Jeenbekov yang merasa masih memegang kendali negara, memerintahkan agar aparat tidak melepaskan tembakan pada pendemo. Padahal, kerusuhan yang terjadi pada saat itu telah melanda kota-kota besar. Bahkan beberapa Gubernur daerah dikabarkan telah mengundurkan diri.

Kerusuhan mencekam yang membuat pusat pemerintahan diterobos pendemo

Para pengunjuk rasa yang menentang hasil pemilihan parlemen berupa memasuki kantor pemerintahan di Bishkek, Kyrgyzstan [sumber gambar]Kerusuhan yang terjadi di Kyrgyzstan membuat satu orang tewas dan 590 luka-luka menurut laporan resmi pemerintah. Lautan pendemo diketahui sempat memadati Ibu Kota Bishkek sebelum akhirnya dibubarkan oleh polisi. Tak lama, gelombang massa kembali memenuhi alun-alun kota. Aksi kali ini membuat mereka berhasil menerobos masuk ke gedung pemerintahan, hingga mengobrak-abrik markas besar Keamanan Nasional.

Situasi politik Kyrgyzstan yang tidak stabil

Demo warga Kyrgyzstan [sumber gambar]Mundurnya Jeenbekov dari kursi kepresidenan bukanlah hal pertama yang terjadi. Sudah sejak lama, iklim politik di Kyrgyzstan yang cenderung tidak stabil membuat aksi massa lumrah terjadi. Tercatat, dua presidennya telah digulingkan oleh aksi massa dan pemberontakan dalam 15 tahun terakhir. Termasuk Jeenbekov yang akhirnya memilih mundur setelah terjadi kerusuhan akibat demo massa yang menentang dirinya.

Bagi Sooronbai, perdamaian di Kyrgyzstan, integritas negara, persatuan rakyat kita dan ketenangan dalam masyarakat berada di atas segalanya. Sadar dirinya tak lagi diinginkan sebagai Presiden lewat demonstrasi yang dilakukan oleh rakyatnya, ia kemudian memilih untuk mundur. Sama seperti Presiden Soeharto yang juga lengser pada 1998 setelah didemo habis-habisan oleh rakyatnya sendiri.

Komentar
Share :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *