Kenali Tanda-Tanda Disleksia Pada Orang Dewasa



Disleksia adalah gangguan belajar dan mengolah informasi yang memengaruhi kemampuan seseorang untuk membaca, menulis, mengeja, atau bahkan berbicara lancar. Disleksia lebih umum ditemui pada anak-anak sekolah mulai di usia yang sangat muda, tapi tidak menutup kemungkinan muncul disleksia pada orang dewasa.

Meski begitu, orang dewasa yang disleksia bukan semata-semata berarti baru kena pertama kali saat umurnya sudah tua. Pasalnya gangguan belajar ini memang berkembang sejak kecil. Munculnya disleksia pada orang dewasa kemungkinan besar disebabkan oleh gejala disleksia yang tidak terlalu kentara sewaktu anak-anak sehingga tidak pernah terdiagnosis.

Disleksia pada orang dewasa ada banyak jenisnya

Berikut beberapa jenis disleksia yang dapat dialami anak sejak dini dan menetap hingga dewasa:

  • Disnemkinesia – disleksia yang ditandai dengan gangguan kemampuan motorik sehingga mereka sulit mengenali bagaimana suatu huruf ditulis dan menyebabkan huruf yang ditulis berbentuk janggal atau terbalik.
  • Disponesia – disleksia yang ditandai dengan gangguan mendengar (kemampuan auditori) dan menyebabkan anak kesulitan mengucapkan kalimat atau memahami bahasa yang masih asing.
  • Diseidesia – merupakan gangguan pada kemampuan visual sehingga sulit untuk memahami tulisan dan mengenali bagaimana tulisan tersebut dibaca. Misalnya, kata “satu” ditulis “one” dalam bahasa inggris tapi dibaca “wan“.

Seseorang yang memiliki disleksia dapat memiliki hanya salah satu karakteristik di atas atau ketiganya sekaligus, dan tingkat keparahannya dapat berbeda-beda pada setiap orang.

Tanda disleksia pada orang dewasa

Dikutip dari laman dyslexia.com, berikut beberapa tanda-tanda disleksia pada orang dewasa setelah dibedakan menjadi empat kategori:

1. Tanda umum:

  • Emosi yang lebih sensitif (cepat marah, mudah jengkel atau frustrasi, mudah stres dan kewalahan dalam situasi tertentu).
  • Sulit menyuarakan pemikiran. Sering ada jeda saat bicara, berbicara dalam frasa yang terputus-putus, atau berbicara kalimat yang tidak lengkap. Ini mungkin memburuk ketika dipicu stres atau gangguan di tengah omongan (misalnya ada kawan yang memotong pembicaraannya).
  • Suka tiba-tiba bengong tapi tidak menyadarinya.
  • Mudah terganggu dengan suara di lingkungan sekitar.
  • Kurang memahami apa yang terjadi di sekitar mereka.
  • Suka keceplosan, dalam hal salah menggunakan dan mengucapkan kata tanpa disadari.
  • Kesulitan memahami dan mengingat pembicaraan atau kejadian yang sudah berlalu.
  • Kesulitan mengingat nama orang, tapi hafal wajah.
  • Kesulitan memahami arahan serta tahapan verbal untuk melakukan suatu hal.
  • Merasa panik dan cemas ketika harus membacakan cerita atau membantu anak mengerjakan PR.
  • Merasa khawatir dan merasa bersalah ketika anak mereka memiliki masalah yang sama

2. Kemampuan membaca, menulis dan bicara:

  • Sulit membaca tulisan dengan jenis huruf ketik (font) yang tidak umum.
  • Kurang suka membaca karena dapat merasa lelah dengan cepat; perlu baca teks hingga dua kali atau lebih.
  • Sangat menghindari membaca keras-keras; mungkin tidak suka berbicara di depan umum.
  • Menggunakan pola suara yang sama atau mirip untuk mengingat kata, namun sering salah menggunakannya.
  • Tidak yakin dengan penggunaan kata, istilah, tanda baca, dan tata bahasa saat menulis; Kata-kata yang dipakai seringnya di luar konteks dan salah penggunaan.
  • Memiliki ejaan yang buruk atau tidak konsisten (sulit mengeja).
  • Kelancaran dan pemahaman membaca bergantung topik tulisan.
  • Suka meminta tolong pada orang lain ketika harus menulis sesuatu.
  • Tulisan tangan jelek; umumnya menulis dengan huruf kapital semua dan sering menyingkat kata.

3. Kemampuan matematis, manajemen waktu dan arahan:

  • Bisa dan paham hitung-hitungan matematika yang rumit sekalipun, tapi tidak dapat menuliskan rumus atau proses perhitungannya di kertas.
  • Mungkin masih mengandalkan trik untuk mengingat suatu rumus matematika. Kadang lebih mengandalkan kalkulator atau penghitungan jari.
  • Kesulitan membedakan kiri dan kanan.
  • Tidak bisa membaca peta serta arah mata angin.
  • Mudah tersasar, atau tidak pernah melupakan mana saja tempat yang pernah didatangi.
  • Selalu cemas ketika harus pergi ke daerah asing atau tempat baru; Mengandalkan orang lain untuk mengemudi bila memungkinkan.
  • Sering lupa waktu dan terlambat; atau sebaliknya, justru selalu tepat waktu.
  • Kesulitan untuk memperkirakan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu tugas.

4. Dari segi karir:

  • Memilih pekerjaan yang tidak perlu banyak berbicara dan menulis.
  • Menghindari pekerjaan yang berkelanjutan atau memiliki banyak tahapan atau prosedur panjang dan berurutan.
  • Kesulitan untuk fokus dan berkonsentrasi pada pekerjaannya; merasa lebih mudah untuk multitasking.
  • Lebih mudah belajar dengan mencoba langsung, demonstrasi, percobaan, observasi dengan bantuan secara visual.
  • Berkembang pesat dalam bidang pekerjaan yang membutuhkan kemampuan spasial dan kinestetik. Misalnya atlet, pekerja mekanik (pertukangan, pipa, listrik), pengusaha dan pengrajin, aktor dan musisi, polisi.
  • Sangat sukses atau cenderung over-achiever atau dianggap “tidak bekerja sesuai potensinya”. Namun, menampilkan etos kerja yang ekstrim.
  • Mungkin perfeksionis dan bereaksi berlebihan saat melakukan kesalahan.

Bagaimana hal ini dapat dikenali?

Diagnosis disleksia pada orang dewasa umumnya dilakukan oleh psikolog secara langsung lewat tes tatap muka, tapi tanpa pemeriksaan fisik dan medis.

Beberapa tes yang diperlukan untuk meresmikan diagnosis dan seberapa parah disleksia umumnya adalah:

  • Tes kemampuan melihat.
  • Tes kemampuan mendengar.
  • Tes kemampuan membaca.
  • Tes kejiwaan.
  • Penilaian terkait gaya hidup dan cara bekerja.

Mengatasi disleksia pada orang dewasa

Setelah dilakukan diagnosis dan penilaian keparahan, terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi gangguan belajar, seperti:

  • Terapi okupasi untuk mengajarkan kemampuan dalam bekerja dan mengatasi gangguan akibat disleksia
  • Melatih kemampuan membaca.
  • Melaksanakan perintah atau instruksi dengan instruksi verbal langsung atau lewat pesan suara.
  • Mengasah kemampuan belajar kata dan mengingat.
  • Melatih pekerjaan yang dianggap sulit dilakukan..

Merekam instruksi atau informasi yang butuh diingat lewat alat perekam akan memudahkan orang dewasa dengan disleksia untuk memahami informasi dibandingkan dengan informasi tertulis.

Selain itu terdapat program atau aplikasi yang memudahkan untuk membaca seperti aplikasi yang bekerja dalam speech-to-text atau membaca teks dan menghasilkan suara.

Baca Juga:



Loading...
Silahkan Share Ke Yang Lain Ya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *