Dianggap Bawa Penyakit, Inilah 4 Fakta Ternak Lalat di China yang Ternyata Malah Bisa Bikin Kaya

Daftar Indodax

Dianggap Bawa Penyakit, Inilah 4 Fakta Ternak Lalat di China yang Ternyata Malah Bisa Bikin Kaya – Adanya lalat memang sangat menganggu kehidupan manusia. Apalagi di rumah-rumah makan, banyak orang bakal jadi eneg kalau serangga ini sudah hinggap di makanan. Oleh sebab itu, dilakukan berbagai cara untuk mengusirnya. Mulai dari raket listrik, obat pembasmi serangga, hingga lem yang ditempel sebagai jebakan lalat.

Namun ternyata di Negeri Tirai Bambu, lalat bisa saja menjadi barang yang lumayan mahal dan berguna. Serangga ini dijual 21 juta rupiah dan bisa membantu mengurangi sampah yang ada. Lalu kenapa bisa begitu? Biar gak penasaran, simak ulasan berikut.

Peternakan lalat yang tak biasa di China

Umumnya sebuah peternakan ada untuk mengembang biakkan binatang yang menghasilkan daging atau produk bermanfaat lainnya. Namun, di China ternyata ada sebuah peternakan yang tak biasa yang  malah mengembangbiakkan lalat. Dilansir dari laman Kompas, Zhang Zhijian salah satu guru besar di Universitas Zhejiang adalah orang di balik ide nyeleneh ini.

Bukan tanpa alasan, hal ini ternyata berhubungan dengan penelitiannya mengenai daur ulang sampah. Ya dengan menggunakan lalat, kemungkinanan besar sampah-sampah bisa terurai dan tidak menyebabkan limbah. Bahkan bisa menghasil barang yang bisa djual dengan lumayan mahal.

Cuma lalat namun laku mahal

Lalat memang binatang yang sering dibenci karena dianggap jorok, namun siapa sangka dari penelitan Zhang ini lalat jadi lumayan mahal. Seperti yang diceritakan sebelumnya kalau Zhang akan mengumpulkan banyak lalat dalam suatu tempat khusus. Di tahun 2014 ternyata dirinya sempat bereksperimen dengan membiarkan 10 ton sampah dihuni oleh serangga dan tak diduga bisa menghasilkan 1,2 ton lalat.

Namun demikian, lalat di sana tidak menyebarkan bakteri maupun infeksi karena memang dibatasi cakup lingkungannya. Nah, lalat steril inilah yang nanti akan mendaur ulang sampah-sampah itu. Sisa sampah dan kotoran lalat akan dijual sebagai kompos, sedangkan belatungnya dijual seharga 21 juta rupiah per tonnya untuk pakan ternak atau peliharaan.

Awalnya ide Zhang ini banyak ditolak

Siapa sangka kalau awalnya tidak ada orang yang melirik ide Zhang ini. Sebab, karena ia hanya mengandalkan lalat, daur ulang mungkin tidak terlalu efektif. Oleh sebab itu, pada awal penelitian tidak ada yang membuang sampah pada tempat yang disediakan oleh Zhang.

Namun dengan adanya bantuan dari pemerintah lokal, akhirnya banyak warga yang membuang sampah di tempat Zhang sehingga daur ulangnya bisa berjalan. Kini, dirinya menerima tumpukan sampah sebesar 12 ton dalam sehari, para warga pun percaya dengan metode milik Zhang ini, yang awalnya mereka remehkan ternyata terbukti benar ampuh.

Di Indonesia juga mulai diterapkan cara serupa

Melirik keberhasilan dari China, beberapa negara rupanya juga ingin mengikutinya, salah satunya Indonesia. Misalnya saja seperti yang ada di Tangerang, dilansir dari laman Liputan6, teknik daur ulang Maggot BSF atau Black Soldier Fly alias media lalat sedang dikembangkan.

Selama proses uji coba, pemerintah setempat menggunakan sampah dari masyarakat yang berjenis organik. Mulai dari sayuran, daging, buah dikumpulkan dan ditempatkan dekat daerah kurungan lalat. Setelah beberapa hari, larva akan tumbuh dan ikut memakan sampah. Nantinya larva-larva ini bisa dijual dengan harga yang lumayan sebagai pakan ternak atau ikan.

Tidak ada yang menyangka kalau binatang seperti lalat ternyata bisa bermanfaat seperti ini. Memang semua ciptaan Tuhan selalu ada manfaatnya kalau kita berpikir. Hal itu sejatinya adalah salah satu nikmat dan kita wajib mensyukurinya.

Share :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *