Bank Indonesia Kick Off Klaster Bawang Merah Di Kecamatan Medan Tuntungan

Kepala Perwakilan BI Wilayah Sumatera Utara/Koordinator Sumatera Wiwiek Sisto Widayat (kiri) memberikan cenderamata kepada Wakil Walikota Medan Akhyar Nasution (dua kanan) di lokasi Klaster Bawang Merah bentukan BI di Medan Tuntungan Medan Kamis (25/4).

MEDAN Wikimedan | Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Wilayah Sumatera Utara membentuk Kick Off Klaster Bawang Merah kepada Gapoktan Mandiri di Kelurahan Baru Ladang Bambu dan Kelurahan Sidomulyo, Kecamatan Medan Tuntungan, Kota Medan.

Acara peresmian Kick Off Klaster Bawang Merah dan Program Youth Agripreneur Bank Indonesia (BI) Sumatera Utara 2019 Gapoktan Mandiri Kelurahan Baru Ladang Bambu dan Kelurahan Medan Tuntutangan, Medan berlangsung Kamis (25/4) dipusatkan di Kelurahan Baru Ladang Bambu.

Hadir di sana Wakil Walikota Medan Akhyar Nasution, Kepala Perwakilan BI Wilayah Sumatera Utara/Koordinator Sumatera Wiwiek Sisto Widayat, Kepala Divisi Pengembangan UMKM BI Sumut Demina Sitepu, Kadis Pertanian, Peternakan, Perikanan dan Kelautan Medan Ikhsar Risyad Marbun, Camat Medan Tuntungan Gelora Ginting, Ketua Gapoktan Mandiri Hermanto dan petani di daerah itu.

Kick Off Klaster Bawang itu juga dirangkai dengan program Youth Agripreneur atau kaum millenial dari masyarakat sekitar dan generasi muda BI (Genbi) yang pilihan dari tiga universitas negeri di Medan. Genbi ini mendapat beasiswa dari BI, mereka diberikan lahan setengah hektar untu mencoba budidaya dua varitas bawang merah yakni bauji dan super philips, mana yang paling bagus.

Juga memperkenalkan pupuk organik yang difermentasi dengan MA 11, satu teknologi baru pengolahan pupuk organik dimana BI mendatangkan ahlinya, penemu MA 11 yakni Dr Ir Nugroho Widias Madi.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI)/Koordinator Sumatera Wiwiek Sisto Widayat kepada wartawan keseriusan BI membina petani di daerah karena komitmen BI untuk bagaimana Pemda dan petani dapat ikut berperan aktif menjaga inflasi. “Di Medan, komoditi bawang merah termasuk pemicu inflasi, ditambah bawang putih, cabai merah dan beras,” katanya.

Wiwiek menyebut dengan pembentukan Klaster ini diharapkan produksi bawang merah meningkat dan cukup. Bahkan tidak saja dari sisi produksi, tapi juga peningkatan di industri hulu, jadi keripik bawang misalnya sehingga memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

“Ini merupakan sumber ekonomi baru. Kita berupaya bagaimana mencari sumber ekonomi baru. Di Medan kita coba bawang merah ini,” jelas Wiwiek yang mengikutsertakan generasi muda dan Genbi untuk menangani bawang merah ini.

Bantuan yang diberikan BI ke Klaster Bawang Merah yakni memberikan bibit bawang merah varitas bauji dan super philips dari Jawa, namum sudah dari penangkaran daerah Medan. Alat untuk mengukur unsur hara dalam tanah supaya tahu seberapa pupuk organik diberikan ke tanah tersebut. Alat lainnya berupa traktor tangan, alat mengolah tanah dan sebagainya yang dapat digunakan kelompok tani tersebut di lahan seluas 2,5 hektar.

Dia mengharapkan bantuan itu berguna bagi peningkatan produksi bawang petani. Meski inflasi dalam lima tahun terakhir cenderung menurun di bawah 5 persen, namun tetap perlu dijaga. Tahun 2018, inflasi nasional 3,13 persen, sedangkan Sumut 1,23 persen.Volatile food merupakan kelompok barang-barang penyumbang inflasi yang peningkatan dan penurunannya harus di bawah faktor fundamental. Ada 380 komoditas yang setiap minggu disurvei Badan Pusat Statistik (BPS).

Wakil Walikota Medan Akhyar Nasution mengatakan di Marelan sekarang sudah jadi penghasil bibit bawang merah. Awalnya, BI membentuk Klaster Bawang Merah di sana, kini memasok bibit termasuk ke Medan Tuntungan ini.

Sementara itu Kadis Pertanian, Peternakan, Perikanan dan Kelautan Medan Ikhsar Risyad Marbun mengatakan petani ini ujung tombak di lapangan. BI banyak berbuat untuk petani di Kota Medan diawali dari Marelan. “Dari Sumut, bibit Marelan nomor satu,” kata Ikhsar.

Dengan lahan sempit, kata Ikhsar, maka perlu pemberdayaan lahan pekarangan rumah sehingga diharapkan tak ada lagi Inflasi di Medan.

Dr Ir Nugroho Widias Madi, penemu Microbacter Alfaafa (MA) 11 super decomposer yakni biang untuk fermentasi limbah hewan maupun manusia untuk pupuk organik. Biasanya fermentasi 1-3 minggu, tapi fermentasi dengan MA 11 cukup hanya satu malam. Hasilnya, produktivitas meningkat. Tanaman padi produktivitasnya dari 6 ton per hektar jadi 18 ton per hektar. “Peningkatan produksi sangat signifikan,” ungkap Nugraha.

Ia menambahkan kini petani mampu jadi terdepan, menghasilkan pupuk hanya satu hari. Terukur, bisa melihat unsur hara tanah hanya dalam hitungan menit sehingga bisa tahu aplikasi yang tepat dalam pemupukan.

“Di Kobe Jepang buat pupuk dari kotoran manusia. Jadi masalah limbah teratasi dan masalah pupuk juga teratasi,” jelas Nugraha.

Ketua Gapoktan Mandiri Kelurahan Mandiri Ladang Bambu Hermanto mengatakan dengan bantuan BI maka kinerja petani meningkat. Pupuk kompos bisa diproduksi hanya satu hari dan pupuknya mampu meningkatkan produksi tananaman. (er)

Silahkan Share Ke Yang Lain Ya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *