AS Diramal Resesi Tahun Ini

Pasang Iklan Disini

Wikimedan – AS Diramal Resesi Tahun Ini. Amerika Serikat (AS) diprediksi akan mengalami resesi ekonomi tahun ini. Ramalan ini disampaikan Kepala Eksekutif Perusahaan Manajemen Investasi DoubleLine Capital, Jeffrey Gundlach.

Gundlach memperkirakan resesi Negeri Paman Sam tahun ini akan terjadi akibat suku bunga yang lebih tinggi. Ini kemudian memberikan tekanan pada konsumen dan perusahaan di AS.

Ia kemudian mengatakan sinyal-sinyal masalah dalam perekonomian AS telah bermunculan. Seperti meningkatnya tunggakan kartu kredit dan data penjualan ritel yang lebih lemah menunjukkan kemungkinan kontraksi ekonomi lebih cepat terjadi dibandingkan risiko rebound inflasi.

“Ada banyak sinyal resesi di luar sana,” kata Gundlach saat berbicara di webinar yang diselenggarakan oleh David Rosenberg, pendiri dan presiden Rosenberg Research, pekan lalu, seperti dikutip dari Reuters, dikutip Selasa (28/5/2024).

“Ada lebih banyak yang tanda resesi dibandingkan inflasi,” tambahnya.

Manajer keuangan yang sering dijuluki ‘raja obligasi’ itu mengatakan, ia menjauhi bagian paling berisiko dari pasar utang korporasi seperti obligasi perusahaan dengan peringkat triple-C serta investasi kredit swasta. Ia memperkirakan gagal bayar utang perusahaan akan melonjak.

Khususnya mengenai kredit swasta, ia mengatakan bahwa investor yang mencari keuntungan lebih tinggi di pasar swasta dibandingkan pasar utang publik menghadapi risiko terjebak pada aset-aset yang tidak likuid jika terjadi perlambatan ekonomi yang tajam.

“Tidak ada faktor yang membuat kredit swasta terlihat lebih baik daripada kredit publik pada saat ini. Ini lebih berisiko, tidak memberikan imbalan yang sama, ini adalah yang terburuk,” katanya.

Di sisi lain, Gundlach mengatakan DoubleLine sangat terekspos terhadap utang pemerintah AS, meskipun ada kekhawatiran atas meningkatnya tingkat utang AS dan melonjaknya pembayaran bunga utang pemerintah yang disebabkan oleh kenaikan suku bunga.

“Saat ini kami memiliki lebih banyak Treasury dalam strategi kami dibandingkan sebelumnya,” kata Gundlach.

Seiring berjalannya waktu, beban utang yang semakin besar dapat menyebabkan perlunya restrukturisasi utang pemerintah AS. Ini merupakan suatu hal yang belum pernah terjadi sebelumnya.

“Saya mendapat ide gila bahwa saya hanya ingin membeli Treasury dengan kupon terendah, karena jika saya memiliki Treasury dengan kupon sangat rendah, saya tidak perlu khawatir akan direstrukturisasi,” jelasnya.

“Saya khawatir pemerintah federal mungkin terpaksa merestrukturisasi utang Departemen Keuangan,” pungkas dia.

Sebelumnya, peringatan baru akan resesi juga dikatakan Kepala Strategi Investasi B. Riley Wealth Management, Paul Dietrich awal Mei. Perlu diketahui Dietrich adalah seorang pakar Wall Street yang merupakan salah satu peramal resesi 2008.

“Ada sejumlah besar peringatan yang muncul di AS yang menunjukkan perekonomian hampir pasti menuju resesi,” tegasnya dimuat Business Insider.

Dalam catatannya baru-baru ini, ia menunjuk beberapa tanda. Seperti inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan sepanjang kuartal pertama (Q1) dan volatilitas yang lebih besar di pasar.

Saham dan obligasi juga mengalami kenaikan yang tidak terlalu besar. Sementara minyak dan emas, yang biasanya memiliki kinerja baik dalam kondisi inflasi, justru meningkat.

“Pertumbuhan ekonomi juga mulai melambat, dengan PDB meningkat 1,6% pada kuartal pertama, turun dari 3,4% pada kuartal terakhir tahun 2024,” kata Dietrich.

“Kepercayaan konsumen juga jatuh,” tambahnya.

“Pertumbuhan lapangan kerja melambat, seiring dengan tingkat pengangguran, baru-baru ini menyentuh level tertinggi dalam dua tahun,” ujarnya.

Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS hampir empat kali lipat imbal hasil dividen S&P 500. Ini kata dia, menjadi sebuah tanda bahwa investor mengantisipasi suku bunga akan tetap lebih tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama.

Ini merupakan imbal hasil Treasury tertinggi sejak tahun 2001. Ini pun, katanya, merupakan kedua kalinya dalam 100 tahun terakhir imbal hasil tersebut mencapai angka sebesar itu.

“Perekonomian dan pasar saham belum pernah melihat hal seperti ini dalam sejarah,” kata Dietrich.

“Semuanya mengingatkan saya pada gelembung Dot-com pada tahun 2001-2002,” ujarnya lagi.

Ia pun berspekulasi bahwa resesi berikutnya sebenarnya “telah tertunda” karena stimulus senilai triliunan dolar yang dikeluarkan selama pandemi. Tapi sebenarnya, perekonomian masih berada di jalur penurunan.

“Ketika dukungan tersebut berhenti, kata dia, hal ini bisa menjadi pukulan terakhir bagi saham, yang tampaknya ditopang oleh kepercayaan investor yang berlebihan dan terputusnya hubungan dengan fundamental perusahaan,” tambahnya.

“Karena belanja defisit saat ini tidak berkelanjutan, maka hal ini akan berakhir suatu saat nanti. Jika hal ini terjadi, dampaknya akan sangat buruk terhadap lapangan kerja, perekonomian, dan pasar saham global,” kata Dietrich lagi.

Dietrich sendiri sebenarnya adalah salah satu peramal ekonomi yang paling bearish tahun ini. Bearish adalah salah satu istilah sentimen pasar untuk penurunan harga.

Share :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *