Pengakuan Dari Peretas Situs Bawaslu ” Mister Cakil ” Terkait Peretasan Tersebut

Wikimedan – Pengakuan Dari Peretas Situs Bawaslu ” Mister Cakil ” Terkait Peretasan Tersebut . Kasubdit II Dittipid Siber Bareskrim Polri Kombes Pol Asep Safarudin mengatakan, pelaku yang tinggal di Bekasi ini menyatakan bahwa ilmu meretas ia pelajari secara otodidak dari google.

“Selain itu pelaku mendapatkan pengetahuan dari grup FB dimana di dalamnya ada sekumpulan kelompok tipical idiot security bertukar tools atau aplikasi melakukan kegiatan hacker,” katanya menjelaskan.

Atas perbuatannya, pelaku terancam dijerat dengan pasal Pasal 46 ayat 1 ayat 2 dan ayat 3 juncto pasal 30 ayat 1 ayat 2 dan ayat 3 dan atau pasal 48 ayat 1 junto pasal 32 ayat 1 dan atau Pasal 49 jo pasal 33 Undang-undang nomor 19 tahun 2016 tentang perubahan Undang-undang nomor 11 tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik dan atau pasal 50 juncto pasal 22 huruf B Undang-undang Nomor 36 tahun 1999 tentang telekomunikasi.

Ilustrasi hacker. Image by (google.com)

DS alias Mister Cakil, pemuda berusia 18 tahun yang ditangkap polisi karena meretas situs Badan Pengawas Pemilu ternyata sempat memberitahu Bawaslu tentang lemahnya keamanan situs mereka.

DS alias Mister Cakil, pemuda berusia 18 tahun yang ditangkap polisi karena meretas situs Badan Pengawas Pemilu ternyata sempat memberitahu Bawaslu tentang lemahnya keamanan situs mereka.

Ia pun mengakui sudah banyak meretas situs. Menurutnya, suatu kebanggaan bisa meretas situs-situs terkenal termasuk situs pemerintah.

“Secara random (retasnya) kadang situs kecil dan situs besar. Bangga bisa meretas dan iya sangat lemah situs pemerintah. Ada universitas juga,” katanya menambahkan.


Info Lainnya
Silahkan Share Ke Yang Lain Ya

4 tanggapan untuk “Pengakuan Dari Peretas Situs Bawaslu ” Mister Cakil ” Terkait Peretasan Tersebut

  • 09/07/2018 pada 10:08 pm
    Permalink

    seharusnya jangan dihukum penjara, apalagi sampai 10 tahun, memang perbuatannya di salah karena telah menghack situs milik pemerintah, namun ada baiknya lebih baik dia dididik saja agar dapat bekerja di bagian keamanan website milik pemerintah, sayangkan salah satu bibit unggul untuk keamanan website negara malah harus mendekam dipenjara

    Balas

Silahkan komentar