Mobil Listrik Dalam Wacana , Hingga Persiapkan Perpres nya

Wikimedan.com, JakartaMobil Listrik Dalam Wacana , Hingga Persiapkan Perpres nya . Presiden Joko Widodo (Jokowi) sedang menyiapkan Peraturan Presiden (Perpres) untuk mendorong pengembangan mobil listrik. Dalam Perpres tersebut, mobil listrik akan dibebaskan dari Bea Masuk dan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPn BM) agar dapat bersaing dengan mobil konvensional.

Sedikit Penjelasan Tentang Mobil Listrik

Mobil listrik adalah mobil yang digerakkan dengan motor listrik, menggunakan energi listrik yang disimpan dalam baterai atau tempat penyimpan energi lainnya. Mobil listrik sangat populer pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, tapi kemudian popularitasnya meredup karena teknologimesin pembakaran dalam yang semakin maju dan harga kendaraan berbahan bakar bensin yang semakin murah.

Krisis energi pada tahun 1970-an dan 1980-an pernah membangkitkan sedikit minat pada mobil-mobil listrik, tapi baru pada tahun 2000-an lah para produsen kendaraan baru menaruh perhatian yang serius pada kendaraan listrik listrik. Hal ini disebabkan karena harga minyak yang melambung tinggi pada tahun 2000-an serta banyak masyarakat dunia yang sudah sadar akan buruknya dampak emisi gas rumah kaca.

Sampai bulan Novemver 2011, model-model listrik yang tersedia dan dijual di pasaran beberapa negara adalah Tesla Roadster, REVAi, Renault Fluence Z.E., Buddy, Mitsubishi i MiEV, Tazzari Zero, Nissan Leaf, Smart ED, Wheego Whip LiFe, Mia listrik, dan BYD e6. Nissan Leaf, dengan penjualan lebih dari 20.000 unit di seluruh dunia (sampai November 2011), dan Mitsubishi i-MiEV, dengan penjualan global lebih dari 17.000 unit (sampai Oktober 2011), adalah kedua mobil listrik paling laris di dunia.

Mobil listrik memiliki beberapa kelebihan yang potensial jika dibandingkan dengan mobil bermesin pembakaran dalam biasa. Yang paling utama adalah mobil listrik tidak menghasilkan emisi kendaraan bermotor.

Selain itu, mobil jenis ini juga mengurangi emisi gas rumah kaca karena tidak membutuhkan bahan bakar fosil sebagai penggerak utamanya.

Pada akhirnya, ketergantungan minyak dari luar negeri pun berkurang, karena bagi beberapa negara maju sepertiAmerika Serikat dan banyak negara Eropa, kenaikan harga minyak dapat memukul ekonomi mereka. Bagi negara berkembang, harga minyak yang tinggi semakin memberatkanneraca pembayaran mereka, sehingga menghambat pertumbuhan ekonomi mereka.

 

Meskipun mobil listrik memiliki beberapa keuntungan potensial seperti yang telah disebutkan di atas, tapi penggunaan mobil listrik secara meluas memiliki banyak hambatan dan kekurangan. Sampai pada tahun 2011, harga mobil listrik masih jauh lebih mahal bila dibandingkan dengan mobil bermesin pembakaran dalam biasa dan kendaraan listrik hibridakarena harga baterai ion litium yang mahal. Meskipun begitu, saat ini harga baterai mulai turun karena mulai diproduksi dalam jumlah besar.

Faktor lainnya yang menghambat tumbuhnya penggunaan mobil listrik adalah masih sedikitnya stasiun pengisian untuk mobil listrik, ditambah lagi ketakutan pengendara akan habisnya isi baterai mobil sebelum mereka sampai di tujuan. Beberapa pemerintah di beberapa negara di dunia telah menerbitkan beberapa insentif dan aturan untuk menanggulangi masalah ini, yang tujuannya untuk meningkatkan penjualan mobil listrik, untuk membiayai pengembangan teknologi mobil listrik sehingga harga baterai dan komponen mobil bisa semakin efisien. Pemerintah Amerika Serikat telah memberikan dana hibah sebesar US$2,4 miliar untuk pengembangan mobil listrik dan baterai.

Pemerintah Tiongkok mengumum kan bahwa mereka akan menyediakan dana sebesarUS$15 miliar untuk memulai industri mobil listrik di negaranya. Beberapa pemerintah lokal dan nasional di banyak negara telah menerbitkan kredit pajak, subsidi, dan banyak insentif lainnya untuk mengurangi harga mobil listrik dan mobil plug-in.

Di negara Indonesia sendiri, pada tanggal 1 April 2012 pemerintah kucurkan 100 miliar rupiah untuk riset mobil listrik[20]. Lalu pada tanggal 10 Juni 2013 pemerintah tegaskan kendaraan listrik bebas pajak. Dan kemudian pada tanggal 12 Juni 2013 Zbee dari Swedia resmi membuka pabrik kendaraan listrik dengan nama PT Lundin Industry, yang terletak di Kota Banyuwangi, Jawa Timur, dan target produksi minimal 100.000 unit per tahun

Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menyambut baik rencana tersebut. Tapi, Gaikindo menyarankan agar mobil hybrid juga diberi insentif serupa, jangan hanya mobil listrik saja.

Sebab, sarana dan prasarana untuk mobil listrik di Indonesia belum siap. Lebih baik pemerintah memulai pengembangan mobil hybrid dulu, baru kemudian mobil listrik. Mobil hybrid bisa menggunakan bensin maupun listrik, jadi tidak bergantung pada 1 sumber tenaga saja.

“Kita menyambut baik, cuma mestinya mobil hybrid dulu, baru kemudian fullmobil listrik. Kita perlu perhatikan sarana dan prasarananya,” kata Ketua I Gaikindo, Jongkie Sugiarto, Selasa (8/8/2017).

Di negara-negara lain pun, kata Jongkie, pengembangan dimulai dari mobil hybrid dulu sembari mempersiapkan berbagai infrastruktur untuk mobil listrik.

“Di negara-negara lain, hybrid dulu baru ke mobil listrik,” tukasnya.

Jika infrastrukturnya belum siap, masyarakat pasti enggan membeli mobil listrik sekalipun harganya kompetitif. Jadi tidak cukup dengan insentif saja, sarana dan prasarana harus siap.

“Kalau mobil hybrid, di jalan baterainya habis, enggak masalah karena bisa pakai bensin. Kalau mobil listrik, di garasi bisa charge baterai, tapi kalau di jalan habis bagaimana? Infrastrukturnya harus dikembangkan dulu,” tutupnya.

Mobil Listrik Dalam Wacana , Hingga Persiapkan Perpres nya


Info Lainnya
Silahkan Share Ke Yang Lain Ya

Silahkan komentar