Pertama Kali Para Dokter Banglades Sukses Pisahkan Bayi Kembar Siam

Wikimedan.com . Pertama Kali Para Dokter Banglades Sukses Pisahkan Bayi Kembar Siam .Bayi kembar siam dempet kepala asal Bangladesh akan menjalani operasi awal untuk memisahkan kepala dan menyelamatkan nyawa mereka. Untuk itu, bayi bernama Rabia dan Rukia tersebut akan menjalani perawatan lebih awal dalam upaya untuk melawan risiko kematian.

Dokter yang akan mengoperasi mengatakan kepada ibu bayi kembar siam  , Taslima Khatun Uno, dan suami, Mohammed Rafiqul Islam, untuk menunggu selama dua tahun. Namun, berdasarkan laporan surat kabar the Deccan Chronicle in India mengungkapkan, operasi tersebut akan dilakukan lebih cepat.

Orangtua bayi Rabia dan Rukia telah mengajukan permohonan bantuan keuangan dari pemerintah untuk mendanai operasi menyelamatkan nyawa buah hati mereka.

Operasi tersebut dapat dilakukan dalam beberapa minggu, saat petugas medis di Banghabandhu Sheik Mujib Medical University di Dhaka memantau kesehatan mereka.

September lalu, The Mirror melaporkan bagaimana Taslima menghadapi masa penantiannya yang menyiksa untuk mengetahui apakah Rabia dan Rukia dapat dipisahkan setelah mereka lahir dengan dempet kepala, musim panas lalu.

Rabia dan Rukia lahir dalam prosedur operasi caesar di Klinik PDC di Pabna, Bangladesh Utara, pada 16 Juli. Namun, Taslima dan Mohammed Rafiqul Islam mengaku tidak mengetahui bahwa bayi kembar mereka dempet kepala hingga buah hati mereka lahir.

“Tiba-tiba dokter itu berteriak ‘Dua bayi! Beri mereka obat-obatan, kita harus menyelamatkan nyawa mereka. Saat itulah saya mulai khawatir bahwa saya telah melahirkan bayi kembar siam yang bagian tubuhnya bersatu,” kata Taslima.

“Sepanjang malam saya mendengar kedua suara tangis itu. Saya pertama kali melihat mereka keesokan harinya ketika kondisi saya membaik. Satu-satunya yang ada di pikiran saya adalah, ‘Bagaimana saya memberi mereka makan? Bagaimana saya merawat mereka? Saya khawatir dengan hal-hal ini pada saat itu’,” ujarnya.

Taslima (28), melalui masa kehamilan yang sehat. Dia terus mengajar di sekolah setempat, dan merawat anak perempuan pertama mereka, Rafia (6). Saat di-USG di awal kehamilan, kandungan Taslima menunjukkan tidak ada kelainan. Namun, pada bulan kedua dari masa kehamilannya, Taslima mulai mengalami rasa sakit.

“Para dokter melakukan sonogram ultra lain dan mengatakan kepada saya bahwa kepala bayi lebih besar dari pada tubuh, dan mereka pikir ini karena air di otak. Saya diberi obat untuk dikonsumsi selama satu bulan untuk mencoba dan mengurangi ukurannya,” jelasnya.

Bahkan, saat Taslima pergi ke dokter persalinan, dia tidak melihat dirinya tengah mengandung bayi kembar siam. Taslima pun mengaku butuh satu hari untuk mengetahui kondisi bayi yang baru lahir setelah biusannya hilang. Sang suami, Rafiqul (27), ingat dirinya diberi tahu tentang kondisi sang buah hati saat berjalan ke ruang operasi.

“Dokter mengatakan kepada saya anak saya kembar, tapi mereka dempet kepala. Saya tidak pernah melihat bayi seperti ini, dan saya merasa gugup,” ungkapnya.

Rabia dan Rukia menjalani perawatan di unit perawatan intensif selama 15 hari sebelum orangtua mereka bisa membawa pulang si kembar untuk menemui kakak perempuan mereka.

‘”Setelah pertama kali melihat mereka, Rafia bertanya, ‘Mereka tidak terlihat bagus, mengapa kepala mereka bersatu? Tolong pisahkan kepala mereka’. Jadi, saya katakan kepadanya bahwa kedua bayi itu cantik, saya akan membawa mereka ke Dhaka untuk operasi memisahkan kepala mereka,” papar Taslima.

Profesor Rohu Rahim, ahli bedah anak dari Universitas Kedokteran Banghabandhu Sheik Murjib, sedang berkonsultasi dengan keluarga tersebut.

“Kepala bayi dempet berdampingan, pada anak-anak lain kita dapat melihat kepala mereka bergabung dari depan ke belakang, yang menciptakan masalah gerakan. Karena kepala mereka bersebelahan, itu membuat gerakan fisik, seperti menekuk leher, lebih mudah,” tandasnya.

Para ahli bedah di Bangladesh  berhasil memisahkan dua bayi kembar siam  berusia 10 bulan dalam apa yang disebut sebagai kesuksesan pertama di negeri itu.

Tofa dan Tahura yang lahir dempet di tulang belakang hingga duburnya, dipisahkan dalam operasi yang melibatkan 24 dokter pada Selasa (1/8) di rumah sakit terbesar di Dhaka.

Dokter bedah anak Abdul Hanif mengatakan, bayi kembar itu dalam kondisi stabil setelah menjalani pembedahan selama sembilan jam.

“Ini adalah kali pertama kami berhasil memisahkan kembar siam di Banglades,” kata Hanif di RS Universitas Kedokteran Banglades, Dhaka.

“Ini adalah sebuah peristiwa penting sepanjang sejarah kedokteran Banglades,” tambah Hanif.

Hanif menambahkan, meski telah terpisah satu sama lain, bayi kembar ini harus menjalani setidaknya dua operasi lagi untuk membenahi organ dalam mereka.

Sementara salah seorang anggota tim dokter Shahnoor Islam mengatakan, meski operasi ini sukses kedua bayi itu masih ditempatkan di ruang ICU untuk memantau kemungkinan munculnya infeksi.

Bayi kembar anak keluarga miskin ini dibawa ke Dhaka sebulan lalu. Keberhasilan tim dokter membuat Shahida Begum, ibu kedua bayi tersebut, tak kuasa menahan haru.

“Dokter mengatakan operasi berhasil tetapi mereka belum sepenuhnya dinyatakan sehat. Saya hanya bisa berdoa untuk anak-anak saya,” kata Begum.

Saat ini, bayi kembar siam lain, kali ini di kepala juga tengah menanti prosedur operasi pemisahan yang kompleks di Dhaka.

Operasi pemisahan kembar siam belum pernah dilakukan di Banglades dan tim dokter meminta saran dari kolega mereka di seluruh dunia sebelum menjalankan operasi.

Pertama Kali Para Dokter Banglades Sukses Pisahkan Bayi Kembar Siam