Penyebab Kecelakaan Pesawat Sering Terjadi di Papua

Wikimedan.com. Penyebab Kecelakaan Pesawat Sering Terjadi di Papua . Jumlah kecelakaan dan insiden serius yang terjadi di wilayah papua , memiliki tren yang cenderung meningkat. Hal itu setidaknya dalam kurun tiga tahun terakhir.

Menurut Direktur Kelaikudaraan dan PengoperasianPesawat Udara (DKPPU) Kemenhub, Muzaffar Ismail, hingga pertengahan 2017 ini, sudah ada 6 kecelakaan dan 7 insiden serius di Papua.

Jumlah tersebut meningkat dari tahun 2015 sebanyak 4 kecelakaan dan 2 insiden serius, serta pada 2016 dengan 6 kecelakaan dan 6 insiden serius.

Kecelakaan serius yang terjadi terakhir adalah tergelincirnya B737-300 kargo milik maskapai Trigana Air di Wamena, pada September 2016 lalu.

“Kalau berdasar wilayah, Illaga dan Wamena menjadi dua yang paling sering terjadi,” kata Muzaffar di acara RI-AS Aviation Working Group (AWG) yang digelar oleh Kemenhub dan Kedubes AS di Bali, Selasa (19/9/2017) lalu.

Menurut Muzzafar, dari kecelakaan dan insiden serius di Papua, DKPPU menemukan beberapa hal yang menjadi faktor yang berkontribusi. Yang utama adalah disiplin dan prosedur yang meliputi prosedur visual flight rules (VFR), approach procedure (unstabilize approach), dan performa pesawat itu sendiri, seperti muatan, weight & balance, dan performa pesawat di ketinggian.

“Selain itu, kualifikasi pilot, implementasi SMS (Safety Management System), kepatuhan terhadap aspek kelaikudaraan, alat bantu navigasi, infrastruktur bandara, serta cuaca juga turut menjadi faktor,” ujar Muzzafar.

Untuk menekan jumlah insiden dan kecelakaan di Papua, Kemenhub menurut Muzzafar telah menyiapkan beberapa upaya, seperti memperpanjang runway, meningkatkan area apron, mereview slot time, serta menambah dan memperbarui peralatan pendukung.

Peralatan-peralatan pendukung yang dimaksud seperti instrumen meteorologi, upgrade layanan navigasi, perbaikan PAPI, pemasangan dan perbaikan NDB, serta membuat SOP baru di wilayah-wilayah yang sering terjadi kecelakaan, seperti di Wamena.

Baca Juga  Salah Isi Oli Mesin dengan Pembersih Kaca, Ini yang Terjadi

Ungkap Penyebab Kecelakaan Pesawat Sering Terjadi di Papua . Ketua KNKT Soerjanto Tjanjono mengatakan, banyak operator, regulator atau bandara yang belum melaksanakan rekomendasi yang dikeluarkan KNKT.

“Untuk itu, kami datang melakukan sosialisasi hasil investigasi dan evaluasi maupun rekomendasi, sehingga operator, regulator, maupun bandara bisa mengetahuinya,” ungkap Soerjanto kepada wartawan di sela-sela kegiatan Accident Review Forum Evaluasi hasil investigasi kecelakaan penerbangan di Papua di Hotel Grand Alison Sentani, sebagaimana dikutip dari Cenderawasih Pos (Jawa Pos Group)

KNKT yang didukung Dinas Perhubungan Provinsi Papua, menurutnya, banyak mendapat masukan-masukan dari berbagai pihak. KNKT bersama Dinas Perhubungan Provinsi Papua pun merasa bersalah karena ternyata persoalan di Papua begitu banyak dan kompleks.

“Seharusnya dengan prosedur dan teknologi yang ada tidak perlu ada perbaikan dan tidak ada kecelakaan pesawat lagi. Kami datang ke sini tujuan paling utama adalah bagaimana menyelenggarakan penerbangan di Papua, tetapi yang lebih berkeselamatan lebih baik,” tegasnya.

Kecelakaan penerbangan di Papua, lanjut Soerjanto, lebih banyak kecelakaan pesawat yang keluar dari runway. Hal ini disebabkan beberapa faktor di antaranya  pesawat tidak stabil tetapi dipaksakan, infrastruktur bandara yang perlu diperpanjang dan diperlebar, alat navigasi yang perlu ditingkatkan, dan ramalan cuaca yang perlu lebih akurat.

“Ini yang kami dari pemerintah pusat dorong supaya tahun depan bisa dilaksanakan. Tetapi itu harus direalisasikan dan kami juga mohon agar apa yang bisa dikerjakan tanpa mengeluarkan uang seperti misalnya kalau pesawat belum lihat runway jangan bilang runway in save. Kalau tower belum lihat pesawat jangan beri aba-aba, terus di bandara jika ada genangan air perlu sampaikan ke pilot, sehingga jangan dipaksakan untuk landing,” tandasnya.

Baca Juga  Antisipasi Pemerintah Hadapi Puncak Arus Balik Hari Ini

Kondisi cuaca yang tidak menentu di Papua menurut Soerjanto juga harus menajdi perhatian para penerbang dan maskapai. Sebab tidak sedikit kecelakaan pesawat yang terjadi di Papua disebabkan cuaca yang tak menentu dan pilot yang nekat mendarat.

Terkait hal ini, Soerjanto akan mengusulkan kepada bandara-bandara khususnya bandara yang ada di Papua untuk menutup bandara apabila kondisi cuaca buruk dan tidak memungkinkan pesawat mendarat.

“Kalau cuaca buruk dan tidak memungkinkan lagi untuk mendarat, pihak bandara harus menutup penerbangan sehingga tidak boleh lagi ada pesawat yang mendarat. Sebab ada oknum pilot yang sering nekat mendarat, sehingga mengakibatkan kecelakaan pesawat,” bebernya.

Saat ini menurut Soerjanto pihak bandara memang tidak mempunyai kewenangan untuk menutup, tetapi KNKT akan minta agar bandara mempunyai kewenangan menutup bandara. “Sehingga kalau bandara ditutup, maka pesawat tidak akan mendarat,” ucapnya.

Dalam kesempatan itu, Soerjanto membeberkan penyebab musibah kecelakaan pesawat ATR 42 PK-YRN milik Trigana Air nomor penerbangan IL-257 rute Jayapura-Oksibil pada 16 Agustus 2015 lalu.

Dari hasil investigasi KNKT, menurutnya, saat hendak landing pesawat potong kompas dan alat yang biasa berbunyi pada saat ada gunung, saat itu tidak berfungsi atau tidak bunyi.

“Selain itu, cuaca yang kurang baik, tetapi pesawat tersebut tetap memaksakan untuk terbang,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Papua, Djuli Mambaya menambahkan, dengan adanya investigasi ini membuat operator maupun pihak terkait untuk bisa sadar, karena banyak hal yang harus dibenahi dan dievaluasi.

“Pemerintah harus hadir untuk memperbaiki navigasi, infranstruktur, SDM, dan kami lihat di daerah pegunungan masih kurang, sehingga memang harus diperbaiki secara bertahap,” tambahnya.

Penyebab Kecelakaan Pesawat Sering Terjadi di Papua.

Baca Juga  Rahasia Bill Gates Bisa Tetap Bersemangat