Maraknya Transportasi Online Yang Menguntungkan Pihak Menegah Keatas Dibanding Pihak Bawah

Wikimedan.com, Jakarta – Maraknya Transportasi Online Yang Menguntungkan Pihak Menegah Keatas Dibanding Pihak Bawah . Keberadaan taksi online dipandang sebagian masyarakat sebagai peluang bagi terciptanya lapangan kerja baru. Bagaimana kenyataannya di lapangan?

Sedikit contoh tentang angkutan online, yaitu grab. Apakah itu grab?

Grab(sebelumnya dikenal sebagai GrabTaxi) adalah sebuah perusahaan asal Singapura yang melayani aplikasi penyedia transportasi dan tersedia di enam negara di Asia Tenggara, yakni Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, Indonesia, dan Filipina. Grab memiliki visi untuk merevolusi industri pertaksian di Asia Tenggara, sehingga dapat memberikan keamanan serta kenyamanan bagi pengguna kendaraan seantero Asia Tenggara. Hingga bulan Maret 2015, jumlah pengguna Grab mencapai 3,8 juta pengguna. Grab tersedia untuk sistem operasi Android, iOS, dan BlackBerry.

Di Indonesia, Grab melayani pemesanan kendaraan seperti ojek, mobil, dan taksi. Saat ini Grab tersedia di seluruh Jakarta dan sekitarnya.

Dan masih ada lagi yang namanya uber. Uber adalah perusahaan rintisan dan perusahaan jaringan transportasi asal San Francisco, California, yang menciptakan aplikasi penyedia transportasi yang menghubungkan penumpang dengan sopir kendaraan sewaan serta layanan tumpangan. Perusahaan ini mengatur layanan penjemputan di berbagai kota di seluruh dunia. Mobil dapat dipesan dengan mengirim pesan teks atau memakai aplikasi bergerak khusus pilihan terakhir juga bisa digunakan untuk melacak lokasi mobil pesanan pengguna.

Awalnya, para sopir Uber menggunakan mobil Lincoln Town Car, Cadillac Escalade, BMW 7 Series, dan Mercedes-Benz S550. Setelah 2012, Uber meluncurkan UberX, yaitu pengayaan jenis mobil agar terjangkau oleh berbagai lapisan masyarakat. Pada tahun 2012, Uber mengumumkan rencana perluasan operasinya yang mencakup tumpangan menggunakan taksi.

Bulan Juni 2014, Uber mengakhiri periode pendanaan yang menaikkan nilai perusahaan menjadi US$18,2 miliar. Meski Uber belum merilis nama-nama investornya, Fidelity Investments diduga-duga merupakan investor terbesarnya. Per Agustus 2014, perusahaan ini masih terlibat gugatan di beberapa wilayah hukum dengan tuduhan operasi taksi ilegal.

Balik lagi tentang kontroversi ini. Pengamat transportasi dari Unika Soegijapranata, Djoko Setijowarno, mengatakan, kondisi ini justru berpotensi menimbulkan konflik horizontal alias konflik antar masyarakat yang sama-sama mencari kerja.

Lebih parah, sambung dia, kondisi ini malah bisa memperlebar kesenjangan atau jurang ekonomi antara kelompok masyarakat kelas menengah dengan kelas bawah.

“Karena yang kelas bawah itu orang yang benar-benar jadi sopir taksi untuk cari uang. Sementara kalau taksi online lebih banyak diserap kelompok kelas menengah yang menjadikan profesi sopir taksi sebagai sampingan untuk tambahan,” tutur dia, Jumat (20/10/2017).

Hal ini tentu bertentangan dengan upaya pemerintah untuk menambah peluang kerja bagi masyarakat dengan cara menciptakan industri baru.

Alih-alih menambah lapangan pekerjaan, pengemudi taksi yang bekerja di perusahaan taksi konvensional malah terancam kehilangan pekerjaannya karena perusahaan tempat mereka bernaung kalah saing dengan perusahaan taksi online.

“Kan kasihan mereka yang benar-benar jadi sopir taksi untuk cari uang malah kehilangan pekerjaan,” sebut dia.