Kalangan Medis Juga Bisa Picu Kontroversi Vaksin-Antivaksin

Berita medan –Kalangan Medis Juga Bisa Picu Kontroversi Vaksin-Antivaksin . Untuk mencegah berbagai masalah kesehatan seperti campak, rubella, dan difteri, vaksinasi dianggap sebagai cara tepat untuk mencegahnya.

Hanya saja dalam perkembangannya, ada dua kubu yang berseberangan soal hal ini, kubu pro vaksin dan antivaksin.

Perang antara pendukung gerakan vaksin dan antivaksin rupanya selalu mengiringi program pemerintah satu ini. Isu negatif negatif seputar vaksin mencuat sejak dicanangkannya program vaksinasi MR atau vaksinasi campak rubella. Saat difteri ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) dan butuh vaksin pun hal ini masih saja terjadi.

Menurut Sri Rezeki Hadinegoro, profesor dan guru besar Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM, kontroversi soal vaksin tak hanya terjadi di Indonesia saja tapi juga di seluruh dunia.

“Tak hanya awam yang antivaksin, kalangan medis juga ada. Dokter bahayanya dia ngerti, tapi bisa memutar balik informasi,” katanya saat diskusi media .

Sri bercerita, dirinya empat tahun lalu pernah diundang dalam sebuah forum diskusi berisi sekelompok ibu-ibu. Ia kaget karena semua yang berada di situ menolak vaksin. Bahkan ada di antara mereka dari kalangan medis. Ada seorang ibu yang membawa bayi dan menunjukkan pada Sri bahwa keenam anaknya sehat tanpa vaksin.

“Di situ saya tetap memberikan edukasi. Saya heran, ada seorang ibu yang dia bercerita begitu menikah, pergi ke Italia dan melakukan imunisasi lengkap di sana. Pulang ke Indonesia, tahu ada seperti ini, dia menyesal sudah imunisasi anak. Saya tidak habis pikir,” ujarnya.

Sedangkan kalangan medis yang ia temui dalam forum tersebut rupanya masih aktif menulis di media sosial. Namun, kata Sri, orang tersebut sudah diproses secara hukum terkait kejahatan siber, sebab ia tidak terdaftar dalam Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

Baca Juga  Sekilas Tentang Edy Rahmayadi

Sri berpendapat, ada 3 hal yang bisa membuat orang menolak vaksinasi. Pertama, orang tersebut hanya sekadar ikut-ikutan dan tidak mengerti soal vaksin. Ia memberikan contoh, saat istri dilarang suami untuk memvaksin anak karena suami merasa hal itu tidak perlu dan hanya akan membuat anak rewel.

Kedua, orang tidak tahu asal usul vaksin. Bahkan, ada pula orng yang meyakini bahwa vaksin itu haram.

“Yang ketiga itu efek samping. Orang masih takut sama efek samping vaksin seperti demam dan kejang. Padahal kejang itu ya karena demam. Makanya kita mengurangi demamnya,”tutup Sri.

Ia menuturkan, saat terjadi masalah terkait vaksin, terdapat tim advokasi yang terdiri dari Kemenkes, IDAI dan MUI. Sri memberikan contoh, masih ada daerah-daerah yang cenderung mendengarkan pemuka agama daripada dokter atau tenaga medis. Tim advokasi pun melakukan intervensi pada pemuka agama lewat MUI agar program vaksinasi bisa berjalan.

Kalangan Medis Juga Bisa Picu Kontroversi Vaksin-Antivaksin .