Alhamdulillah Bapak Presiden Tegas soal Full Day School

Wikimedan.com. Alhamdulillah Bapak Presiden Tegas soal Full Day School. Sejumlah kiai dari berbagai pondk pesantren mengeluh kepada Presiden RI Joko Widodo terkait kebijakan Ful Day Schoo l (FDS) yang diterapkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Para kiai menyampaikan keluhan tersebut kepada Presiden saat bersilaturahim di pondok pesantren Nurul Islam, Kelurahan Antirogo, Kecamatan Sumbersari.

“Para kiai sudah menyampaikan langsung kepada Bapak Presiden terkait kekhawatiran matinya madrasah diniyah pasca-pemberlakuan Full Day School oleh Kemendikbud,” ungkap Ketua GP Ansor Jember, Ayub Junaidi, Sabtu (13/8/2017).

Polemik penerapan lima hari sekolah (LHS) atau full day school terus menguat. Aspirasi sebagian besar masyarakat meminta agar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tidak menerapkan kebijakan yang tertuang dalam Permendikbud No 23 tahun 2017 tentang Hari Sekolah.

Pemerintah juga sudah mengumumkan bahwa akan menaikan status aturan tentang hari sekolah ini dalam bentuk Peraturan Presiden, mengingat substansinya terkait dengan beberapa kementerian.

Menanggapi hal itu, Kepala Biro Hubungan Masyarakat, Data, dan Informasi ‎Kementerian Agama (Kemenang) Mastuki meminta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaaan (Kemendikbud), memperhatikan aspirasi yang berkembang di masyakarat.

“Penerapan lima hari sekolah tak sesuai dengan karakteristik dan keragaman lembaga pendidikan di Indonesia. Termasuk di dalamnya adalah pendidikan keagamaan yang sudah berkembang jauh sebelum Indonesia merdeka,” ujar Mastuki dalam keterangan tertulis yang diterima JawaPos.com Jumat  (11/8).

Menurutnya, karakteristik pendidikan keagamaan Islam di Indonesia sangat unik. Di samping beragam jenisnya, ciri pendidikan keagamaan itu adalah mandiri, berstatus swasta dan milik masyarakat.

Kemenag mengelola dan bertanggung jawab terhadap berbagai lembaga pendidikan keagamaan itu, baik formal maupun non formal. Tiga diantaranya yang bersinggungan langsung dengan penerapan lima hari sekolah adalah madrasah, diniyah, dan pesantren.

Baca Juga  Romantisnya Bulan Madu Momo 'Geisha' di Belanda

Pembelajaran di ketiga lembaga itu sangat unik, khas, dan berorientasi pada pembentukan karakter keislaman yang kental.

“Lima hari sekolah bukan hanya sulit diterapkan di madrasah, diniyah dan pesantren, tapi juga akan mengacaukan dan berakibat tumpang tindihnya pembelajaran di lembaga-lembaga ini. Makanya, kalau ada ormas Islam yang menolak lima hari sekolah, dapat dimengerti dari sisi ini,” ucapnya.

Mastuki menilai, penerapan lima hari sekolah jika dipaksakan untuk diterapkan di semua lembaga pendidikan, selain tidak produktif juga akan mengeskalasi resistensi masyarakat terhadap pemerintah.

Data Kementerian Agama mencatat, setidaknya 233.949 lembaga pendidikan Islam yang berpotensi terkena imbas lima hari sekolah jika dipaksakan untuk diterapkan pada semua level.

Dari jumlah itu, 14.293 pondok pesantren menyelenggarakan sekolah (SD/SMP/SMA/SMK) dan madrasah (MI/MTs/MA). Selain itu ada 84.796 Madrasah Diniyah Takmiliyah yang terancam bermasalah dengan pola pembelajaran 8 jam/sehari.

Mastuki menyarankan lima hari sekolah tidak dipaksakan kepada masyarakat. Dia berharap Kemendikbud dapat menghargai inisiatif dan kontribusi pendidikan yang telah diselenggarakan masyarakat selama ini.

“Lebih baik fokus pada pembentukan karakter (character building) yang bisa diterima oleh semua pihak,” tuturnya.

Apalagi pendidikan keagamaan Islam sangat kaya akan dengan pendidikan karakter atau akhlak ini. Hal yang sama ditemui di lembaga pendidikan keagamaan lainnya.

“Nilai-nilai religius yang telah menyatu dalam penyelenggaraan pendidikan selama ini justru akan semakin kuat dan menemukan momentum jika ditopang oleh regulasi pemerintah,” tandasnya.

Hasilnya, lanjut Ayub, presiden menegaskan kepada seluruh kiai bahwa tidak ada keharusan bagi sekolah untuk melaksanakan kebijakan tersebut.

“Alhamdulillah, Bapak Presiden sudah tegas bahwa sekolah tidak wajib melaksanakan kebijakan itu. Artinya itu pilihan, bagi yang mau melaksanakan silakan, bagi yang tidak ya monggo. Melihat situasi yang ada,” ungkapnya.

Baca Juga  Laju Folger Kejutkan Marquez di sirkuit

Bahkan, menurut Ayub, presiden akan segera mengeluarkan Perpres terkait kebijakan penguatan pendidikan karakter anak, dengan memasukkan pendidikan madrasah diniyah di dalamnya.

“Menurut beliau (Presiden), perpresnya sedang digodok, nanti kita tunggu semoga saja cepat keluar,” harapnya.

Selama kunjungan ke Jember, selain bersilaturahim ke sejumlah pondok pesantren, Presiden Jokowi dijadwalkan akan melihat langsung event Jember Fashion Carnival (JFC) ke-16.

Alhamdulillah Bapak Presiden Tegas soal Full Day School